Gelombang Panas Eropa Picu 1300 Kematian Berlebih

Share

Lonjakan suhu ekstrem berupa gelombang panas yang menyerang sejumlah negara di Eropa dilaporkan telah memicu sekitar 1.300 kematian berlebih sejak 21 Juni 2026. Fenomena cuaca buruk ini terjadi akibat kombinasi kompleks dari pergeseran pola atmosfer, faktor geografis, serta dampak nyata dari pemanasan global.

Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Guswanto memaparkan bahwa terbentuknya pola atmosfer bernama omega block dan heat dome menjadi pemicu utama udara panas dari Afrika Utara terperangkap di wilayah Eropa, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

"Heat wave di Eropa terutama dipicu oleh pola atmosfer seperti *omega block dan heat dome yang membuat udara panas dari Afrika Utara terperangkap di lintang menengah Eropa. Posisi garis lintang Eropa yang berada di zona subtropis-temperate membuatnya rentan terhadap aliran udara panas dari selatan ketika sirculasi jet stream terganggu," ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (1/7/2026).

Kondisi omega block muncul ketika aliran jet stream yang biasanya bergerak dari barat menuju timur mengalami perubahan bentuk menyerupai huruf Yunani omega. Pola ini kemudian menciptakan hambatan sirkulasi udara di atmosfer bumi.

"Hal ini menciptakan 'kemacetan atmosfer' saat sistem tekanan tinggi stabil di tengah, dikelilingi tekanan rendah di sisi barat dan timur. Akibatnya, udara panas tidak bisa bergerak keluar dan tetap menumpuk di atas Eropa," ucapnya.

Kondisi ini diperparah oleh heat dome, yaitu situasi ketika tekanan udara tinggi bertindak layaknya penutup panci yang mengurung udara panas di dekat permukaan bumi. Akibatnya, udara yang turun mengalami kompresi sehingga suhunya meningkat drastis, didukung langit cerah yang membuat radiasi matahari terus membakar permukaan.

Faktor geografis Eropa yang mayoritas berada pada lintang 35-55 derajat LU juga memperbesar risiko ini. Wilayah tersebut merupakan zona transisi antara area subtropis dan iklim sedang (temperate) yang rentan saat terjadi pergeseran massa udara.

Saat pola omega block terbentuk, atmosfer bertindak layaknya penyedot yang menarik aliran udara panas dari Gurun Sahara di Afrika Utara menuju ke utara dan menahannya dalam waktu yang lama di atas dataran Eropa.

Laju pemanasan di benua tersebut kini tercatat mencapai 0,56 derajat Celsius per dekade, atau dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata dunia. Selain itu, kesuksesan pengurangan polusi udara di Eropa justru secara tidak langsung mengurangi partikel pemantul radiasi, sehingga permukaan bumi menyerap lebih banyak panas.

Fenomena mencairnya tutupan es dan salju juga menurunkan kemampuan bumi dalam memantulkan sinar matahari. Hal ini mempercepat pemanasan tanah dan meningkatkan intensitas gelombang panas secara keseluruhan.

Kondisi Cuaca yang Berbeda di Indonesia

Di sisi lain, karakteristik cuaca panas yang terjadi di Indonesia memiliki latar belakang yang sepenuhnya berbeda. Suhu tinggi di tanah air lebih dipengaruhi oleh siklus gerakan semu matahari serta kondisi langit yang bersih selama musim kemarau.

"Gelombang panas (Heatwave) hampir tidak terjadi di Indonesia karena atmosfer tropis cepat berubah dan tidak stabil," ucapnya.

Kondisi atmosfer di wilayah tropis yang cenderung dinamis membuat penumpukan udara panas dalam jangka panjang sulit terjadi. Guswanto menegaskan bahwa cuaca panas yang dirasakan masyarakat belakangan ini murni merupakan dinamika cuaca musiman, bukan gelombang panas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author