Gelandang Real Madrid Terbakar Emosi hingga Terlibat Pertikaian Fisik

Share

Ketegangan melanda internal Real Madrid setelah dua gelandang andalan mereka terlibat perselisihan fisik di ruang ganti.

Seperti dilansir dari Bola, Federico Valverde dikabarkan mengalami cedera serius di bagian kepala akibat konflik dengan rekan setimnya, Aurelien Tchouameni.

Satu versi menyebutkan kepala Federico Valverde terbentur meja, sedangkan laporan lain menduga cedera tersebut berasal dari pukulan langsung Aurelien Tchouameni.

Insiden ini memperkeruh suasana Los Blancos yang sedang mengalami masa sulit setelah tersingkir dari Liga Champions.

Selain itu, Real Madrid juga terancam gagal menjuarai La Liga 2025/2026 karena tertinggal dari Barcelona yang kokoh di puncak klasemen.

Perselisihan antar-rekan setim di klub sepak bola Eropa sebenarnya bukan kejadian baru.

Dikutip dari Bola yang melansir Planet Football, terdapat lima insiden keributan internal yang pernah menggemparkan jagat sepak bola.

Zlatan Ibrahimovic memiliki rekam jejak panjang dalam perselisihan fisik, termasuk ancaman mematahkan kaki Rafael van der Vaart di Ajax dan pemukulan Jonathan Zebina di Juventus.

Namun, bentrokan paling brutal dialami Ibrahimovic saat berseragam AC Milan ketika ia berhadapan dengan Oguchi Onyewu.

"I menanduknya, dan kami saling menyerang," tulis Ibrahimovic dalam otobiografinya.

"Kami ingin saling mencabik-cabik. Itu brutal. Kami berguling-guling, saling meninju dan menendang. Kami gila dan marah. Itu seperti hidup dan mati."

Emmanuel Adebayor Versus Nicklas Bendtner

Emmanuel Adebayor juga tercatat pernah berkelahi dengan rekan setimnya, Kolo Toure, dalam sesi latihan Manchester City pada 2011.

Sebelum insiden tersebut, Adebayor terlibat konflik dengan Nicklas Bendtner saat masih membela Arsenal pada tahun 2008.

Adebayor dilaporkan menanduk Nicklas Bendtner hingga hidungnya terluka dan berdarah saat Arsenal takluk 1-5 dari Tottenham di semifinal Piala Liga.

Graeme Hogg Versus Craig Levein

Pertikaian sesama pemain bahkan bisa terjadi dalam laga tidak resmi seperti pertandingan persahabatan pramusim.

Craig Levein mematahkan hidung Graeme Hogg saat Hearts tertinggal 0-1 dari Raith Rovers pada tahun 1994.

Akibat tindakan tersebut, kedua pemain diusir dari lapangan oleh wasit, bahkan Graeme Hogg menerima kartu merah saat berada di atas tandu medis.

Sanksi berat kemudian dijatuhkan berupa skorsing 10 pertandingan untuk Graeme Hogg, sementara Craig Levein dilarang bermain 12 laga dan kehilangan jabatan kapten.

David Batty Versus Graeme Le Saux

Kegagalan Blackburn di Liga Champions musim 1995 setelah menjuarai Liga Inggris memicu frustrasi mendalam di skuad mereka.

Saat tertinggal 0-3 dari Spartak Moscow pada pertandingan kelima fase grup, David Batty dan Graeme Le Saux justru terlibat perkelahian di lapangan.

"Sebelum pertandingan, saya memberi tahu para pemain bahwa mereka akan bermain melawan 11 orang yang siap berjuang untuk satu sama lain selama 90 menit bukan melawan satu sama lain," canda pelatih Spartak, Oleg Romantsev, setelah pertandingan.

Ricardo Fuller Versus Andy Griffin

Insiden unik lain terjadi pada laga Stoke melawan West Ham pada 2008 akibat kesalahan lini pertahanan.

Kapten Stoke, Andy Griffin, terpeleset sehingga membuat Carlton Cole mencetak gol penyeimbang yang memicu teguran keras dari Ricardo Fuller.

Keduanya kemudian saling berhadapan sebelum kick-off dilakukan kembali, hingga Ricardo Fuller menampar Andy Griffin dan langsung dihukum kartu merah.

"Pergilah, kau pantas mendapatkannya," ujar Griffin sambil menunjuk ke ruang ganti.

Mantan manajer Stoke, Tony Pulis, menjelaskan situasi tersebut dalam sebuah wawancara 13 tahun setelah kejadian.

"Mereka baik-baik saja setelahnya, itu hanya dua karakter yang sangat, sangat berapi-api dan mereka kehilangan kendali, keduanya, pada saat yang bersamaan," kata Tony Pulis dalam sebuah wawancara 13 tahun kemudian.

"Andy memberi Ric sedikit teguran dan Ric bukanlah orang yang pandai menerima teguran ketika emosinya sedang meluap."

"Itu terjadi di depan umum dan itu sulit dan Anda harus menjawab pertanyaan. Wawancara dengan pers setelahnya juga sulit."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author