Fotografer Meksiko Abadikan Gol Tangan Tuhan Diego Maradona
Momen ikonik gol "Tangan Tuhan" oleh Diego Armando Maradona dalam laga perempat final Piala Dunia 1986 antara Argentina dan Inggris di Stadion Azteca berhasil diabadikan secara jelas oleh fotografer El Heraldo de México, Alejandro Ojeda Carbajal, pada 22 June 1986.
Pertandingan tersebut memiliki muatan simbolis yang kuat karena berlangsung hanya empat tahun setelah Perang Malvinas. Pada menit ke-51, Maradona melompat bersama kiper Inggris Peter Shilton dan memukul bola dengan tangan kirinya ke dalam gawang.
Aksi tersebut tidak terlihat oleh wasit Ali Bennaceur asal Tunisia, namun berhasil direkam oleh kamera Ojeda Carbajal. Berkat foto tersebut, Ojeda Carbajal menerima Penghargaan Jurnalisme Nasional Meksiko pada tahun 1987.
Anak dari sang fotografer yang telah wafat pada 2 Agustus 1999, Juan Carlos Ojeda, mengenang kembali momen ketika foto tersebut dicuci di ruang redaksi.
"Ojeda, tienes la foto del Mundial" ujar rekan kerja Ojeda seperti yang ditirukan Juan Carlos Ojeda.
Juan Carlos menambahkan bahwa meskipun ada kontroversi terkait foto lain, tidak ada gambar yang memperlihatkan tangan menyentuh bola sejelas karya ayahnya. Sebelum menghubungi redaksi, Ojeda sempat menolak tawaran dari BBC London yang ingin membeli foto itu seharga 10 ribu dolar AS.
"Sí hubo controversia con fotografías tomadas por un argentino y por Getty, pero hasta ahora no existe otra imagen donde se vea con tanta claridad la mano tocando el balón. La única es la de mi papá" kata Juan Carlos Ojeda.
Laga ini menjadi momen bersejarah dalam karier Maradona. Fotografer asal Argentina, Eduardo Longoni, memberikan pandangannya mengenai pencapaian teknologi fotografi saat itu dalam wawancara bersama media ABC dari Spanyol.
"Ese fue el último Mundial donde una modesta cámara fotográfica le pudo ganar a la televisión" kata Eduardo Longoni.
Piala Dunia 1986 menjadi penegasan mitos Maradona yang dipenuhi berbagai motivasi emosional. Berdasarkan laporan Enfant Terrible, Maradona membawa amarah akibat eliminasi Piala Dunia 1982, misi balas dendam Malvinas, hingga protes terhadap FIFA yang menggelar laga di tengah terik siang hari.
Maradona sempat mengungkapkan ambisi pribadinya dalam sebuah wawancara dengan media El Gráfico mengenai tekadnya membobol gawang Inggris.
"hacerles un gol con la mano y un segundo gol, el más grande de la historia" tutur Diego Armando Maradona.
Bagi masyarakat Argentina, pertandingan tersebut bukan sekadar urusan sepak bola di atas lapangan hijau. Maradona menegaskan komitmennya untuk menghormati para korban Perang Malvinas melalui laga tersebut.
"No jugué el partido pensando que íbamos a ganar la guerra, pero sí que le íbamos a hacer honor a la memoria de los muertos, a darles un alivio a los familiares de los chicos y a sacarla a Inglaterra del plano mundial… futbolístico" ucap Diego Armando Maradona.
Karier Maradona terus dikenang lintas generasi meskipun sempat terganjal kasus doping empat tahun kemudian yang ditulis oleh Eduardo Galeano dalam bukunya. Laga melawan Inggris tetap bertengger sebagai pencapaian tertinggi sang legenda dunia.
"Es el momento sublime. Ese partido es el momento sublime de toda mi carrera. El que explica por qué los chicos de 10 años, que en la puta vida me vieron jugar, siguen hablando de mí. Porque los padres le cuentan" kata Diego Armando Maradona kepada El Gráfico.