FC Twente Gugur dari Europa League Usai Imbang Lawan Ferencvaros
Kekecewaan mendalam menyelimuti skuad FC Twente setelah dipastikan tersingkir dari babak kualifikasi ketiga Europa League usai bermain imbang 2-2 melawan Ferencvaros pada Kamis, 30 Juli 2026. Hasil di Hungaria tersebut membuat klub asal Belanda kalah agregat 3-4 dan harus terlempar ke babak kualifikasi Conference League untuk menghadapi wakil Slovakia, DAC 1904.
Tuan rumah Ferencvaros memimpin terlebih dahulu lewat penalti Toon Raemaekers sebelum kartu merah Philippe Rommens pada menit ke-36 memberi keuntungan jumlah pemain bagi Twente. Namun, Ferencvaros justru menggandakan keunggulan melalui Lenny Joseph di awal babak kedua, sehingga gol balasan dari Wout Weghorst dan Lucas Vennegoor of Hesselink gagal menyelamatkan langkah Twente.
Tensi tinggi terjadi setelah peluit panjang berbunyi ketika penyerang anyar FC Twente, Wout Weghorst, tampak emosional dan terlibat perselisihan di lapangan. Bintang timnas Belanda tersebut mendatangi wasit asal Ukraina, Viktor Kopievsky, sebelum menolak berjabat tangan dengan pencetak gol lawan, Toon Raemaekers.
Kondisi di atas lapangan yang memanas tersebut memicu reaksi dari komentator pertandingan yang menyoroti kepemimpinan wasit serta perselisihan antarpemain.
"Satu menit lagi seharusnya bisa ditambahkan dan ada beberapa tendangan sudut di sana-sini, tetapi kekalahan hari ini bukan karena kesalahan wasit," kata Mark van Rijswijk, komentator ESPN.
Perselisihan antarpemain terus berlanjut di area lapangan setelah perseteruan singkat antara Weghorst dan Raemaekers yang melibat pemain lain.
"Di sana perselisihan masih terus berlanjut…" kata Mark van Rijswijk.
Pelatih kepala FC Twente, John van den Brom, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap performa tim yang dinilainya tampil di bawah standar, terutama terkait keputusan taktik pemain di menit-menit akhir.
"Younes misalnya, tentu memberikan beberapa umpan silang yang bagus dan beberapa yang buruk," kata John van den Brom, Pelatih FC Twente.
Van den Brom menambahkan bahwa timnya sebenarnya mampu mencetak dua gol dan hampir menambah angka di akhir laga melalui Stav Lemkin, namun pertahanan lawan tampil cukup solid.
"Tapi baiklah, Anda juga tidak boleh lupa bahwa lawan bisa bertahan dengan baik di dalam kotak penalti. Kami memang mencetak dua gol dengan cara itu, dan pada akhirnya bola hampir masuk lagi dengan cara yang sama melalui Stav. Sangat disayangkan hal itu tidak berhasil lagi," kata John van den Brom.
Kekesalan sang pelatih memuncak saat membahas keputusan para pemainnya yang melancarkan umpan-umpan lambung spekulatif dari area tengah lapangan menjelang laga usai.
"Itu benar-benar tidak luar biasa," kata John van den Brom.
Ia menilai tindakan para pemain di atas lapangan sangat tidak cerdas dan merugikan tim.
"Saya jadi gila karena hal itu dan begitu juga rekan-rekannya. Lalu saya bertanya-tanya: 'apa yang merasukimu saat itu di lapangan untuk melakukan hal tersebut?'. Itu tidak pintar," kata John van den Brom.
Saat ditanya mengenai kesiapan timnya bersaing di tingkat Eropa, Van den Brom menegaskan pentingnya sikap rendah hati serta mengakui keunggulan lawan.
"Anda harus selalu rendah hati ketika kalah dari tim yang benar-benar siap. Mereka lebih pintar dalam banyak momen dan penonton juga membantu. Saya sangat menghormati lawan ini, biarlah itu menjadi hal utama, tetapi saya pikir banyak pemain kami yang bermain jauh di bawah level mereka.
Hal itu terus mengganggu pikiran Anda. Itulah mengapa Anda tidak bisa mengetahui apakah Anda siap untuk Europa League," kata John van den Brom.