Ekonomi Jawa Tengah Tumbuh 5,80 Persen Pada Semester I 2026

Share

Provinsi Jawa Tengah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,80 persen secara kumulatif pada Semester I-2026 di tengah dinamika ketidakpastian perdagangan global. Capaian positif tersebut melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Selain peningkatan ekonomi, angka kemiskinan di Jawa Tengah juga mengalami penurunan. Data Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 sebanyak 3,29 juta orang atau 9,21 persen, berkurang 59.390 orang dibandingkan September 2025.

Secara kewilayahan, perekonomian Jawa Tengah memberikan sumbangan signifikan terhadap tingkat regional maupun nasional. Jawa Tengah tercatat menjadi kontributor ekonomi terbesar keempat di Indonesia.

"Kontribusi Jawa Tengah terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen atau sebesar 8,19 persen terhadap perekonomian nasional. Hal tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai kontributor perekonomian terbesar keempat secara nasional," kata Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said dalam siaran pers pada Sabtu (15/8/2026).

Sektor penanaman modal turut mendorong kinerja ekonomi daerah dengan realisasi investasi Semester I-2026 mencapai Rp48,54 triliun. Total modal masuk tersebut berhasil menyerap 213.217 tenaga kerja dari 55.989 unit proyek.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Jawa Tengah, Sakina Rosellasari merinci realisasi investasi terdiri dari Rp23,02 triliun pada triwulan pertama dan Rp25,53 triliun pada triwulan kedua. Capaian triwulan kedua tersebut naik 10,88 persen dibanding triwulan sebelumnya.

"Alhamdulillah, di tengah kondisi geopolitik yang tidak baik-baik saja, Jawa Tengah tetap bertambah dan bertumbuh 10,88 persen dari triwulan pertama," ujar Sakina Rosellasari.

Komposisi investasi Semester I-2026 disokong oleh Penanaman Modal Asing sebesar Rp25,92 triliun atau 53,40 persen. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri menyumbang Rp22,62 triliun atau 46,60 persen. Pemerintah daerah kini terus mendorong pengembangan kawasan industri guna mempermudah akses infrastruktur bagi para investor.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dan lintas sektor untuk melanjutkan agenda pembangunan daerah.

"Maka kita punya semangat collaborative goverment (pemerintahan kolaboratif), karena kita tidak bisa sendiri-sendiri," ucap Luthfi.

Gubernur menambahkan bahwa kemitraan strategis perlu dibangun secara luas, termasuk melibatkan institusi pendidikan tinggi negeri maupun swasta.

"Gubernur bukan superman, melainkan harus menggunakan super team dalam rangka melakukan pembangunan di wilayah kita. Provinsi (Jateng) dengan 35 kabupaten/kota dan segala aspek yang ada, (maka) collaborative government (pemerintahan kolaboratif) harus kita ciptakan," lanjut Luthfi.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mengajak para kepala daerah, tokoh masyarakat, akademisi, hingga media untuk memperkuat prinsip kerja sama tim dalam mengeksekusi program pembangunan.

Semangat kebersamaan tersebut juga tecermin dalam peringatan ulang tahun ke-81 Provinsi Jawa Tengah yang mengusung tema 'Gumregut Nyawiji'.

"Semangatnya adalah bareng-bareng membangun Jawa Tengah. Ini selaras dengan arahan Pak Gubernur, bahwa kita harus berkolaborasi dengan semua pihak," kata Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bps ekonomi investasi Jawa Tengah
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author