Ekonom Perkirakan Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Juni 2026

Share

Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga acuan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur edisi Juni 2026 pekan ini, meskipun mata uang rupiah telah menunjukkan penguatan dalam lima hari beruntun.

Proyeksi kenaikan suku bunga acuan tersebut dilansir dari BloombergTechnoz berdasarkan hasil survei terhadap 30 orang ekonom dan analis yang menghasilkan median estimasi sebesar 5,75 persen.

Angka tersebut mengindikasikan adanya potensi kenaikan sebesar 25 basis poin, setelah otoritas moneter melakukan peningkatan agresif sebesar 75 basis poin sepanjang sebulan terakhir.

Konsentrasi perkiraan para analis di kisaran 5,5 hingga 5,75 persen ini memperlihatkan bahwa pelaku pasar menilai tidak ada ruang bagi pelonggaran moneter dalam waktu dekat, sekalipun indikator pertumbuhan ekonomi domestik mulai melambat.

Di sisi lain, terdapat dua ekonom yang memproyeksikan langkah lebih agresif berupa peningkatan sebesar 50 basis poin hingga menyentuh level 6 persen.

"Kenaikan lanjutan secepat rapat Juni tetap mungkin terjadi, meski bisa dihindari jika rupiah mulai stabil atau harga minyak melunak," kata Tamara Henderson, ekonom dari Bloomberg Economics.

Melalui catatan tersebut, Henderson juga memprediksi bahwa Bank Indonesia masih akan terus melanjutkan pengetatan kebijakan moneter ini sampai bunga acuan mencapai angka 6 persen pada kuartal pertama tahun depan.

Meskipun demikian, beberapa analis lain memperkirakan suku bunga akan tetap ditahan pada level 5,5 persen, termasuk Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.

Josua menilai skenario mempertahankan level suku bunga saat ini masih menjadi pilihan utama dengan tingkat probabilitas mencapai 80 hingga 90 persen, sementara peluang kenaikan lanjutan tergolong kecil.

Langkah pengetatan tambahan dinilai baru akan diambil apabila tekanan eksternal kembali melonjak, seperti pelemahan rupiah ke kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS, kenaikan imbal hasil Treasury AS, atau keluarnya modal asing dari pasar domestik.

"Dalam kondisi rupiah mulai menguat, BI sebaiknya tidak terburu-buru menaikkan suku bunga lagi hanya untuk mengejar penguatan jangka pendek," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.

Josua mengingatkan bahwa kebijakan yang terlalu agresif berisiko menaikkan biaya dana perbankan, menekan konsumsi rumah tangga, hingga membuat sektor industri menunda investasi.

Kondisi pasar pada Senin (15/6/2026) pukul 11:10 WIB menunjukkan rupiah bergerak stabil dengan menguat 1,02 persen ke posisi Rp17.687 per dolar AS, didorong oleh penurunan harga minyak mentah dunia sebesar 4,71 persen ke level US$83,22 per barel.

Penguatan ini sejalan dengan tren di pasar keuangan regional Asia, di mana Peso Filipina menguat 1,22 persen, rupee India naik 0,53 persen, ringgit Malaysia menguat 0,29 persen, dan dolar Singapura meningkat 0,18 persen.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author