Ehud Barak Sebut Donald Trump Mulai Mengabaikan Benjamin Netanyahu

Share

Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini mulai mengabaikan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Senin, 3 Agustus 2026. Sikap pimpinan Amerika Serikat tersebut dinilai sangat mengkhawatirkan bagi posisi politik serta daya tawar Tel Aviv di kancah internasional.

Perubahan sikap politik ini terlihat dari munculnya kerangka kerja baru terkait Jalur Gaza yang meminggirkan posisi Israel, serta keputusan sepihak Washington membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Keputusan batalnya serangan ke Teheran diumumkan langsung oleh Trump pada Sabtu, 1 Agustus 2026, setelah pihak Iran dan negara-negara Timur Tengah meminta waktu untuk memfinalisasi kesepakatan damai.

Barak mengritik keras isi rancangan kesepakatan Gaza yang dinilainya sama sekali tidak mengomodasi kepentingan keamanan utama Tel Aviv.

"Bahasa dalam kesepakatan itu sangat ambigu, namun arah umumnya jelas. Israel dan tuntutannya telah diabaikan," kata Barak, Mantan Perdana Menteri Israel.

Mantan kepala pemerintahan periode 1999-2001 tersebut menjelaskan bahwa draft kesepakatan Gaza tidak memuat syarat perlucutan senjata total milik Hamas maupun pengasingan para pemimpinnya.

"Sebaliknya, kesepakatan itu berbicara mengenai penghentian pembunuhan dan kembali pada kendali 53 persen atas Jalur Gaza, bukan 65 persen," ujarnya Barak, Mantan Perdana Menteri Israel.

Ia menegaskan bahwa perubahan dinamika diplomasi antara kedua negara sahabat tersebut merupakan kenyataan yang sangat pahit.

"Kenyataan pahitnya adalah Trump tidak lagi memedulikan Netanyahu, dan semua ini sangat mengkhawatirkan," ucap Barak, Mantan Perdana Menteri Israel.

Penilaian tersebut didasarkan pada retaknya hubungan personal dan hilangnya kepercayaan dari lingkaran dalam Istana Kepresidenan AS terhadap kepemimpinan Netanyahu.

"Hubungan Trump dengannya telah mengalami keretakan yang dalam," ujarnya Barak, Mantan Perdana Menteri Israel.

Selain itu, Barak menyoroti ancaman militer di lapangan mengingat para petempur Hamas dilaporkan masih menguasai puluhan ribu senjata tanpa ada skema pengumpulan yang jelas.

"Kenyataan mendasar yang patut kita khawatirkan adalah bahwa Israel tidak memiliki suara dalam isu ini. Kesepakatan itu dicapai tanpa kehadiran Israel di meja perundingan," ucap Barak, Mantan Perdana Menteri Israel.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan klaim diplomasi yang sempat disampaikan oleh pihak pemerintah Israel sebelumnya.

"Trump, yang telah bertemu Netanyahu dalam pertemuan yang digambarkan oleh sang Perdana Menteri sebagai pertemuan terbaik mereka selama ini, kini secara efektif mengabaikannya," kata Barak, Mantan Perdana Menteri Israel.

Terkait isu Iran, Trump dikabarkan sempat menyatakan kepada media bahwa pimpinan Israel akan mengikuti seluruh instruksinya, yang mengindikasikan ketidakmampuan Tel Aviv menahan kehendak Washington.

"Apa yang terjadi malam ini sepenuhnya dapat diprediksi. Trump tidak menginginkan perang berskala besar," ujarnya Barak, Mantan Perdana Menteri Israel.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author