DPR dan Danantara Pantau Bursa Efek Indonesia Saat IHSG Melemah
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama jajaran direksi Danantara Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan memantau kondisi pasar modal di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Selasa, 19 Mei 2026, setelah Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah signifikan.
Langkah ini diambil guna memperkuat kepercayaan investor domestik maupun global serta menyempurnakan regulasi pasar modal di tengah tekanan sentimen global dan dinamika dalam negeri.
Data perdagangan sesi I di Bursa Efek Indonesia pada hari kunjungan menunjukkan IHSG anjlok 202,97 poin atau 3,08 persen ke level 6.396,27, sementara indeks LQ45 merosot 21,10 persen ke posisi 637,42 dengan nilai transaksi mencapai Rp15,13 triliun.
"Mudah-mudahan kita akan melihat hasilnya setelah tanggal 29 ini, semua yang dilakukan atas kerja keras dan niat baik ini akan membuahkan hasil," ujar Dasco di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Penyesuaian konstituen di Indeks Global Standard dan Indeks Small Cap MSCI sendiri dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 29 Mei 2026.
"Kami tadi sudah banyak berdiskusi bagaimana kita meyakinkan untuk menguatkan investor global yang akan masuk di bursa dan sekarang di bursa," ucapnya.
Dasco menambahkan bahwa otoritas terkait tengah menyempurnakan aturan demi menjaga kenyamanan para pemodal lokal di tengah pertumbuhan jumlah investor domestik.
"Tadi kami mendengarkan paparan dari direktur bursa, bagaimana mereka kemudian menyempurnakan regulasi-regulasi yang bisa kemudian meyakinkan dan juga membuat para investor lokal merasa nyaman," katanya.
Pihak parlemen meyakini kekuatan fundamental pasar modal Indonesia mampu menghadapi gejolak ekonomi global yang sedang berlangsung.
"Sehingga tadi kita lihat bahwa pertumbuhan investor lokal atau retail terus bertambah dan itu kemudian dengan fundamental yang ada kita yakin dan pretend bahwa bursa kita ke depan akan semakin kuat," ujarnya.
Apresiasi juga diberikan kepada jajaran regulator atas respons cepat mereka dalam mengantisipasi volatilitas pasar.
"Terima kasih atas kerja keras dari Direksi Bursa maupun OJK yang beberapa hari ini telah bersusah payah menghadapi situasi yang disebabkan oleh pasar global maupun dinamika di dalam negeri," tutupnya.
Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Officer Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan bahwa saham perbankan nasional saat ini berada dalam posisi di bawah harga wajar atau undervalued.
“Apalagi kalau kita lihat perbankan, dari Price to Book-nya itu below 1, di bawah 1, dimana kalau keadaan normal itu above 2, above 3. Jadi definitely there’s a potential upside,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa.
Rosan menegaskan pergerakan naik turun saham di bursa merupakan siklus yang biasa terjadi dan fundamental emiten saat ini tetap kokoh dengan imbal hasil yang menarik.
“Jadi, kami dari Danantara melihat ini memang di bursa pasti ada up and down. Tapi kalau kita lihat dari fundamental perusahaan, ini baik, mempunyai yield yang tinggi, pricing saat ini sangat baik,” ujar Rosan.
Pertumbuhan jumlah investor ritel yang kini mencapai 26 hingga 27 juta orang juga dipandang sebagai indikasi positif tingginya kepercayaan publik terhadap pasar modal.
“Logikanya peningkatan ini terjadi karena investor kita yakin bahwa bursa kita makin baik ke depannya dan promising. Kalau tidak, seharusnya jumlah investor justru turun. Kalau melihat bursa ini tidak ada prospek, ya logikanya seperti itu,” ujar Rosan.
Edukasi berkala yang dijalankan BEI dan OJK dinilai penting untuk menanamkan pemahaman bahwa pasar saham adalah instrumen investasi jangka menengah hingga panjang.
“Investasi di pasar modal ini adalah investasi baik menengah, panjang, yang bisa menghasilkan suatu return yang baik dan bisa menghasilkan pertumbuhan kita yang terus berkembang,” ujar Rosan.
Pendekatan investasi jangka panjang juga menjadi fokus utama Danantara dalam melihat performa emiten Badan Usaha Milik Negara termasuk sektor perbankan dan mineral.
"Kan approach kita itu bukan harian, bukan bulanan, tapi jangka panjang. Saya sangat meyakini bahwa ke depannya dalam jangka panjang bahwa bursa kita ini akan terus bertumbuh, naik dari segi market kapitalisasinya, baik dari segi emitennya dan juga investornya," ujar Rosan.
Ia menambahkan emiten BUMN di pasar modal tercatat memberikan tingkat pengembalian atau yield yang kompetitif bagi para investor.
"Kita lihat investasi di bursa, buat kami di Danantara, ini adalah investasi jangka panjang. Kalau kita lihat BUMN yang ada di bursa secara satu per satu, contohnya Himbara ataupun mineral, kita itu yield-nya juga sangat baik di atas 10-11 persen," ungkap dia.
Penyempurnaan regulasi yang dijalankan bersama oleh OJK dan BEI pasca-penyesuaian indeks MSCI dipercaya mampu mengakselerasi transparansi bursa saham nasional.
"Ini adalah suatu proses, yang kami meyakini ini akan menimbulkan kepercayaan kepada bursa kita menjadi jauh lebih baik di depannya. Tentunya memang dari investor dalam maupun luar negeri, proses ini kan sudah we are heading on the right direction. Nah bagaimana kita mencoba mengakselerasi perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan yang sudah dilakukan oleh OJK dan BEI," papar dia.
Keyakinan terhadap prospek pasar ke depan diperkuat oleh terus meningkatnya jumlah investor baru jika dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya yang berkisar di angka 20 juta orang.
"Logikanya, peningkatan ini terjadi karena investor kita yakin bahwa bursa kita ini makin baik ke depannya dan promising, kalau enggak ya mestinya number of investor akan turun," ucap dia.
Sebagai penutup rangkaian pemaparan, peningkatan pemahaman publik yang komprehensif mengenai capital market dipandang sebagai fondasi utama stabilitas pasar.
"Jadi itulah edukasi yang kita harus berikan, harus sampaikan sehingga pemahaman mengenai bursa, pasar modal, kapital market ini menjadi baik, menjadi komprehensif," pungkasnya.