Dosen UMY Ungkap Penyebab Mahasiswa Baru Mengalami Stres Saat Ospek
Masa orientasi pengenalan lingkungan kampus (ospek) sering kali memicu tekanan psikologis bagi mahasiswa baru. Kondisi ini dinilai sebagai respons yang wajar mengingat banyaknya perubahan lingkungan yang terjadi secara bersamaan, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Cahyo Setiadi Ramadhan, menjelaskan bahwa transisi dari sekolah ke perguruan tinggi membawa banyak penyesuaian.
Mahasiswa bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah serta memasuki lingkungan yang jauh lebih luas. Tekanan tersebut terasa kian berat bagi mahasiswa yang harus merantau, jauh dari keluarga, dan dituntut mandiri untuk pertama kalinya. Selain itu, beban tugas ospek dan tuntutan adaptasi cepat turut memicu stres.
Mengenai anggapan bahwa generasi Z memiliki mental yang lebih lemah dibanding generasi sebelumnya, Cahyo menepis pandangan tersebut. Menurutnya, setiap generasi menghadapi tantangan tersendiri yang berbeda-beda.
Gen Z tumbuh di era pesatnya internet dan media sosial yang memicu kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap perasaan cemas, rasa minder, hingga fenomena fear of missing out (FOMO). "Media sosial membuat seseorang lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Pikiran seperti, 'Mengapa teman saya sudah seperti itu, sementara saya belum?' dapat meningkatkan kerentanan terhadap kecemasan," jelasnya.
Peran Kampus dan Orang Tua dalam Masa Orientasi
Cahyo mengingatkan pihak kampus dan panitia agar tidak memanfaatkan masa orientasi untuk menambah beban mahasiswa baru. Ospek seharusnya menjadi wadah yang nyaman bagi maba untuk mengenal kampus, menjalin pertemanan, dan memahami sistem akademik. Untuk menjaga kesehatan mental, mahasiswa baru disarankan tetap menjalankan kegiatan positif seperti beribadah, berolahraga, melakukan hobi, serta menjaga waktu istirahat. Menjaga komunikasi dengan orang tua dan tidak ragu meminta bantuan juga sangat penting, terutama bagi mahasiswa perantau.
"Kebiasaan baik dapat menjadi jangkar ketika menghadapi perubahan. Selain itu, jangan ragu membangun pertemanan baru dan tetap berkomunikasi dengan orang tua, terutama pada masa-masa awal kuliah," ujarnya. "Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk belajar mandiri sambil tetap memberikan dukungan. Proses ini akan lebih optimal apabila kampus dan keluarga bersama-sama mendampingi mahasiswa menjalani masa transisinya," pungkas Cahyo.