Gianluigi Donnarumma Bantah Isu Skuad Timnas Italia Tuntut Bonus Uang

Share

Kapten Timnas Italia Gianluigi Donnarumma membantah keras rumor miring yang menuduh skuad Gli Azzurri menuntut bonus finansial kepada federasi pada Sabtu, 30 Mei 2026.

Isu ini merebak setelah langkah Italia menuju Piala Dunia 2026 resmi tertutup akibat didepak oleh Bosnia & Herzegovina pada babak play-off dua bulan lalu.

Kegagalan tersebut memastikan Italia absen di tiga edisi Piala Dunia secara beruntun dan memicu pengunduran diri massal di internal federasi, termasuk Presiden FIGC Gabriele Gravina, kepala delegasi Gianluigi Buffon, dan pelatih Gennaro Gattuso.

Donnarumma merasa sangat terpukul karena gosip tersebut menggiring opini publik seolah para pemain hanya memikirkan materi saat negara meratapi tragedi sepak bola.

"Hal yang paling menyakitkan bagi saya adalah apa yang diberitakan media. Sebagai kapten, saya menegaskan kami tidak pernah meminta satu euro pun kepada tim nasional Italia," ujar Gianluigi Donnarumma, Kapten Timnas Italia kepada Sky Sport Italia.

Kiper utama PSG tersebut mengklarifikasi bahwa sistem reward sebenarnya murni tradisi internal federasi jika target tim tercapai, bukan atas desakan sepihak dari para pemain.

"Dalam setiap kompetisi, memang ada sistem reward (hadiah) jika target tim tercapai. Namun, tidak ada satu pun pemain yang mengemis atau meminta hal itu kepada federasi," kata Gianluigi Donnarumma, Kapten Timnas Italia.

Mantan penjaga gawang AC Milan tersebut menegaskan bahwa fokus utama seluruh elemen tim sejak awal adalah harga diri serta prestasi, bukan nominal finansial.

"Hadiah terbesar kami sebenarnya adalah tiket tampil di Piala Dunia. Sayangnya, impian besar itu tidak terwujud," ucap Gianluigi Donnarumma, Kapten Timnas Italia.

Kekecewaan mendalam akibat kegagalan kualifikasi ini juga dirasakan oleh bek muda Arsenal, Riccardo Calafiori, yang tampil penuh saat laga krusial melawan Bosnia tersebut.

Langkah Italia terhenti setelah Alessandro Bastoni menerima kartu merah di akhir babak pertama dan Bosnia berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-80 sebelum akhirnya Gli Azzurri takluk 4-1 dalam drama adu penalti.

Menjelang putaran final yang akan bergulir sekitar dua pekan lagi, Calafiori mengaku tidak sanggup menyaksikan jalannya turnamen akbar tersebut karena trauma emosional yang mendalam.

"Kurasa aku enggak akan menonton pertandingannya, rasanya akan terlalu menyakitkan," tutur Riccardo Calafiori, Bek Arsenal kepada La Repubblica dan Cronache di spogliatoio.

Pemain berusia 24 tahun itu menjelaskan bahwa kesibukan bermain reguler bersama Arsenal cukup membantunya untuk mengalihkan pikiran, meskipun proses penerimaan di awal terasa sangat rumit.

"Sering bermain dengan Arsenal membantuku sehingga tidak terlalu memikirkannya, tapi memang rasanya rumit di awal," kata Riccardo Calafiori, Bek Arsenal.

Calafiori mengenang kembali jalannya laga di mana Italia sempat memimpin dan memiliki harapan besar di lapangan yang sulit sebelum kebobolan di sepuluh menit terakhir waktu normal.

"Bagaimana pertandingannya mulai, kami punya harapan melawan Bosnia. Kami memimpin di atas lapangan yang sulit, kemudian kami kebobolan di menit ke-80. Itu mungkin satu-satunya pertandingan yang tidak kutonton lagi," ujar Riccardo Calafiori, Bek Arsenal.

Kendati belum mengetahui bagaimana cara mengubah pengalaman pahit ini menjadi motivasi, Calafiori tetap berharap ada pelajaran berharga yang bisa dipetik oleh skuad Italia untuk bangkit di masa depan.

"Itu kan pertandingan yang harus kami menangi, dan begitulah. Kuharap pengalaman ini membantu kami, sekalipun aku belum tahu bagaimana caranya," ucap Riccardo Calafiori, Bek Arsenal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author