Donald Trump Batalkan Serangan Militer ke Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana serangan militer baru terhadap Iran pada Minggu (02/8/2026) guna memberi ruang bagi jalur diplomasi. Langkah tersebut diambil usai menerima permintaan dari sejumlah sekutu di kawasan Timur Tengah, seperti dilansir dari Detikcom.
Keputusan penundaan serangan militer ini berdampak langsung pada kondisi ekonomi global. Setelah pengumuman tersebut, harga minyak jenis Brent tercatat merosot sekitar 7 persen, sementara indeks saham Dow Jones ditutup mencapai rekor tertinggi. Meski begitu, sebuah kapal kargo dilaporkan tetap dihantam proyektil tak dikenal di dekat Selat Hormuz pada Selasa (04/8/2026), yang menyebabkan jalur perdagangan minyak dunia tersebut masih mengalami penurunan volume lalu lintas kapal.
Trump menegaskan bahwa kerangka kesepakatan yang sedang dirancang mewajibkan pembukaan akses penuh di Selat Hormuz serta penghapusan ancaman nuklir Teheran. Ia memastikan tekanan militer dan blokade ekonomi dari pihak AS tidak akan mereda sebelum ada ketetapan resmi dari kedua belah pihak.
"Berdasarkan permintaan tersebut, saya setuju membatalkan serangan demi masa depan dunia dan demi kelangsungan Iran yang sukses dan makmur, selama kesepakatan dapat segera dicapai," ujar Donald Trump, Presiden AS.
Namun, dalam perkembangan terbaru pada Senin (03/8/2026), Trump mengkritik sikap pemerintah Iran yang dianggapnya munafik karena menolak mengakui keberadaan jalur pembicaraan diplomatik yang tengah dibangun.
"Iran secara terbuka mengatakan bahwa tidak sedang bernegosiasi. Padahal kenyataannya, kami sedang membicarakan solusi atas masalah yang mereka ciptakan selama puluhan tahun," kata Donald Trump, Presiden AS.
Trump menekankan bahwa pengawasan ketat dan blokade di wilayah perairan kawasan akan terus diterapkan oleh armada militer AS sampai kesepakatan akhir terbentuk.
"Tidak ada yang akan masuk ke Iran kecuali kami mengizinkannya, dan tidak akan ada yang lolos sampai tercapai kesepakatan atau penyerahan total," tegas Donald Trump, Presiden AS.
Di sisi lain, pihak Iran membantah keras klaim dialog bilateral yang disampaikan oleh Washington. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan Teheran tidak memegang agenda pertemuan apa pun dengan pihak AS dalam waktu dekat.
"Tidak ada negosiasi dengan AS yang sedang berlangsung maupun yang dijadwalkan," ungkap Donald Trump, Presiden AS.
Pemerintah Iran menegaskan komunikasi yang berjalan sejauh ini hanya dilakukan bersama Oman untuk membahas teknis pengawasan Selat Hormuz. Sementara itu, eskalasi di kawasan juga memicu respons dari kelompok milisi di Lebanon terkait situasi keamanan regional yang belum stabil.
"Perundingan langsung antara Lebanon dan Israel tidak akan menghasilkan apa pun selain rasa malu, penghinaan, dan kompromi yang terus-menerus bagi Lebanon," ujar Naim Qassem, Pemimpin Hezbollah.
Analis dari Washington Institute Michael Knights menilai Iran sengaja menerapkan strategi bertahan untuk meningkatkan beban biaya ekonomi bagi AS dan para sekutunya di kawasan.