Dolar AS Tekan Rupiah ke Level Rp17.879 per Dolar AS

Share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot 74 poin atau 0,42 persen ke level Rp17.879 pada perdagangan Selasa (2/6) pagi. Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta penguatan data manufaktur AS.

Berdasarkan data perdagangan Selasa pagi, pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,02 persen dan ringgit Malaysia bergerak stabil, sedangkan peso Filipina melemah 0,03 persen, dolar Singapura turun 0,01 persen, yen Jepang terkoreksi 0,03 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,16 persen, dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa penguatan dolar AS terjadi setelah Iran menghentikan dialog damai dengan AS. Langkah tersebut diikuti dengan rencana penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi energi global vital.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat merespons pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan Amerika Serikat dan berencana menutup penuh Selat Hormuz. Penguatan dolar AS juga didukung data manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan," ujar Lukman Leong, Analis DOO Financial Futures kepada CNNIndonesia.com.

Lukman Leong memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini akan berada di kisaran Rp17.800 sampai Rp17.900 per dolar AS. Ia menambahkan bahwa ancaman gangguan distribusi minyak mentah dunia memicu peningkatan permintaan terhadap aset aman atau safe haven.

"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang menguat merespons pernyataan Iran yang menghentikan perundingan damai dengan AS dan berencana untuk sepenuhnya menutup Hormuz," kata Lukman Leong kepada ANTARA.

Selain ketegangan geopolitik global, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rilis data ekonomi domestik dan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang berlaku sejak 1 Juni 2026. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut ketidakpastian konflik AS-Iran mendorong indeks dolar AS mendekati level psikologis 100.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.800 – Rp17.950 dipengaruhi oleh risiko geopolitik global adanya ketidakpastian kesepakatan penyelesaian konflik AS dan Iran yg berakibat index dolar naik mendekati 100 dan menaikkan ekspektasi kenaikan harga minyak,” jelas Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara kepada ANTARA.

Rully Nova menambahkan bahwa dari sisi domestik, pergerakan rupiah dibatasi oleh kondisi fiskal pemerintah, ketidakpastian arah kebijakan, dan tren inflasi yang berlanjut. Tekanan ini sebelumnya telah mendorong Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin ke posisi 5,25 persen.

Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad memaparkan bahwa kejatuhan nilai tukar rupiah ini berdampak langsung pada kenaikan harga produk serta komponen impor. Situasi ini berpotensi memicu inflasi impor (import inflation) pada barang elektronik hingga komoditas pangan seperti kedelai.

"Misalnya produk elektronik, kemudian beberapa produk pangan seperti katakanlah kedelai dan sebagainya, itu kan pasti ikutan naik. Elektronik akan naik karena sebagian komponennya itu impor. Pokoknya produk-produk impor itu akan naik dan itu akan menyebabkan import inflation," jelas Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF kepada detikcom.

Kenaikan suku bunga acuan BI sebagai respons pelemahan rupiah juga diprediksi mengerek suku bunga pinjaman di perbankan. Suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit konsumtif, hingga kredit investasi diperkirakan akan semakin mahal.

"Otomatis suku bunga di kita akan semakin tinggi, mulai merangkak naik terutama untuk suku bunga pinjaman. Misalnya untuk KPR semakin mahal, untuk kredit konsumtif semakin naik, termasuk juga untuk kredit investasi juga akan semakin mahal. Saya kira konsekuensinya seperti itu," terang Tauhid Ahmad.

Guna menghadapi tekanan ekonomi ini, masyarakat kelas menengah disarankan untuk memperketat pengeluaran konsumtif. Pembatasan belanja khususnya harus diterapkan pada produk-produk yang berasal dari luar negeri.

"Hindari ya karena harga-harga barang yang tadi saya sebut naik berarti kan harus agak sedikit ketat gitu ya untuk barang-barang yang konsumtif. Terutama barang-barang yang berasal dari impor," jelas Tauhid Ahmad.

Bagi masyarakat yang memiliki komitmen pinjaman, pemilihan jenis suku bunga juga menjadi faktor krusial untuk menjaga stabilitas keuangan. Tauhid Ahmad menyarankan kelas menengah untuk menghindari skema bunga mengambang.

"Kalau mereka punya cicilan ya cari cicilan-cicilan yang katakanlah bunganya tuh fix gitu ya yang mereka bisa jangkau, jangan yang floating. Kalau ada floating ya berarti kenaikan tingkat suku bunga, dia ikut kena. Kalau dia harus cicil misalnya kendaraan, untuk rumah dan sebagainya, cari yang fix. Cari yang manageable bagi mereka gitu," papar Tauhid Ahmad.

Selain mengendalikan pos pengeluaran, masyarakat juga diimbau untuk mulai mencari alternatif pendapatan di luar pekerjaan utama. Upaya ini dinilai penting agar daya beli tidak tergerus oleh kenaikan harga barang.

"Sekarang kelas menengah sudah mulai mencari income tambahan apapun bentuknya. Karena kalau hanya mengendalikan konsumsi tapi pendapatan tidak ada upaya tambahan maka juga bisa kalah," kata Tauhid Ahmad.

Tauhid Ahmad menilai sektor jasa atau perdagangan kecil dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengamankan pemasukan tambahan di tengah ketidakpastian nilai tukar.

"Karena itu memang harus cari peluang-peluang usaha atau income lainnya di sektor jasa dan sebagainya yang bisa menambah pendapatan mereka. Mungkin kelas menengah ini kan banyak yang juga ya tambahannya jadi ojol atau jualan dan sebagainya," sambung Tauhid Ahmad.

Langkah antisipasi serupa turut ditekankan oleh Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira. Ia mengingatkan kelompok kelas menengah untuk mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok harian dan mengabaikan penawaran produk impor.

"Kelas menengah harus menyiapkan payung sebelum hujan. Beli yang perlu-perlu saja untuk kebutuhan harian. Jangan tergoda promosi, apalagi barang-barang impor," tutur Bhima Yudhistira, Founder dan Direktur Eksekutif CELIOS kepada detikcom.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author