Disney PHK Massal Karyawan Marvel Studios Lumpuhkan Tim Desain

Share

Langkah drastis diambil oleh raksasa media The Walt Disney Company yang mengejutkan industri hiburan global. Dilansir dari Detikcom, perusahaan resmi mengumumkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menyapu karyawan di seluruh lini bisnis holding medianya.

Kebijakan pemangkasan ini menyasar berbagai sektor vital. Mulai dari studio film, jaringan televisi, divisi olahraga, hingga unit bisnis experiences terkena dampak dari keputusan tersebut.

CEO baru Disney, Josh D'Amaro, mengedarkan memo internal yang mengklaim langkah menyakitkan ini sebagai strategi krusial. Keputusan ini diambil untuk menyederhanakan operasional serta merestrukturisasi manajemen keuangan perusahaan di tengah lanskap media yang kian tidak menentu.

Hantaman terdalam dari pengumuman ini justru diterima oleh anak emas mereka, Marvel Studios. Pengurangan staf secara masif terjadi di dua roda penggerak utama Marvel Studios, yaitu kantor New York dan Burbank.

Langkah efisiensi tersebut melumpuhkan hampir seluruh aspek organisasi. Departemen produksi film dan televisi, divisi komik, manajemen waralaba, hingga departemen finansial dan hukum ikut terdampak.

Keputusan Disney merumahkan hampir seluruh anggota tim pengembangan visual Marvel Studios menjadi dampak yang paling memilukan dan memicu kekhawatiran besar. Tim yang terkena dampak merupakan kumpulan seniman pemenang penghargaan, ilustrator, desainer karakter, desainer latar, serta spesialis teknis kelas dunia.

Para kreator tersebut adalah otak estetika yang bertanggung jawab menciptakan cetak biru visual dari seluruh waralaba besar Marvel Cinematic Universe (MCU). Karya mereka membentang mulai dari kemegahan era The Avengers, keunikan kosmik Guardians of the Galaxy, hingga pendekatan pragmatis dalam serial Daredevil.

Mayoritas dari para kreator ini telah mendedikasikan hidup dan kreativitas mereka di Marvel selama lebih dari satu dekade. Kini, departemen visual yang legendaris tersebut dilaporkan hanya menyisakan segelintir staf produksi purnawaktu berskala kecil.

Sisa tim ini hanya akan berfungsi sebagai koordinator administratif untuk merekrut kembali tenaga kerja lepas atau agensi luar berdasarkan proyek yang sedang berjalan. Beberapa seniman senior yang terdampak dikabarkan akan ditawari transisi status dari karyawan tetap menjadi kontraktor independen tanpa jaminan jangka panjang.

Restrukturisasi Marvel Studios ini sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya mengejutkan bagi para pengamat industri, melainkan puncak dari gunung es masalah yang telah menumpuk. Manajemen pusat mengambil tindakan tegas setelah beberapa tahun terakhir MCU dibanjiri kritik akibat penurunan kualitas CGI dan kejenuhan penonton akibat terlalu banyaknya rilisan di Disney+.

Marvel Studios sebelumnya memang telah mengumumkan rencana pemotongan skala produksi secara drastis demi mengembalikan fokus pada kualitas narasi dan visual. Kebutuhan akan staf tetap dalam jumlah besar otomatis menurun ketika proyek yang diproduksi berkurang.

Disney di bawah kepemimpinan Josh D'Amaro sedang berada dalam tekanan besar dari para pemegang saham untuk memangkas biaya operasional pasca-era pandemi dan perang streaming. Marvel yang selama ini dikenal sebagai divisi dengan anggaran belanja produksi paling jor-joran menjadi target utama efisiensi.

Laporan internal mengonfirmasi bahwa PHK di tubuh Marvel ini murni didorong oleh restrukturisasi finansial dan strategi korporat. Posisi para seniman Marvel yang dirumahkan tidak digantikan oleh teknologi otomatisasi, berbeda dengan gelombang pemangkasan di sektor industri kreatif lain yang mulai digantikan oleh efisiensi Kecerdasan Buatan.

Pergeseran dari sistem karyawan tetap menjadi sistem kontrak berbasis proyek dinilai menguntungkan bagi korporasi dari segi efisiensi anggaran. Namun, di sisi lain langkah raksasa Hollywood ini memicu perdebatan sengit mengenai masa depan kesejahteraan pekerja kreatif karena menciptakan ketidakpastian ekonomi yang berat bagi para seniman.

Kabar buruk ini langsung menjadi topik panas di kalangan profesional seni global sejak Selasa sore. Laporan yang mulai dirilis oleh berbagai media dagang terkemuka di Hollywood memicu gelombang solidaritas di media sosial.

CEO Josh D'Amaro mencoba memberikan pandangan dari sudut pandang bisnis melalui memonya karena menyadari kebijakan ini akan memicu gelombang kekecewaan dan penurunan moral karyawan.

"Saya tahu ini adalah masa-masa yang sangat berat bagi kita semua," tulis D'Amaro dalam memo internalnya kepada staf Disney.

"Keputusan-keputusan sulit ini sama sekali bukan merupakan refleksi dari kualitas kontribusi yang telah mereka berikan selama ini, ataupun cerminan dari melemahnya kekuatan perusahaan kami secara keseluruhan."

D'Amaro menambahkan:

"Sebaliknya, langkah ini mencerminkan evaluasi berkelanjutan kami tentang bagaimana cara mengelola sumber daya perusahaan secara lebih efektif, sehingga kami dapat berinvestasi kembali ke dalam lini bisnis kami dengan lebih tepat sasaran di masa depan."

Langkah ekstrem yang diambil Disney ini menjadi sinyal kuat bahwa peta kekuatan dan pola kerja di Hollywood telah berubah secara permanen. Era keemasan di mana studio-studio besar mempertahankan ribuan staf kreatif internal dengan anggaran tak terbatas tampaknya telah berakhir, digantikan oleh era baru yang lebih ramping, kalkulatif, dan berbasis efisiensi ketat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author