Dani Olmo Ungkap Peran Besar Ayah dalam Karier Sepak Bolanya
Gelandang Timnas Spanyol Dani Olmo mengungkapkan peran krusial ayahnya dalam membentuk karier sepak bola profesionalnya sejak masa kanak-kanak melalui bimbingan taktis dan kritik yang membangun.
Pemain berusia 28 tahun yang kini membela F.C. Barcelona tersebut merefleksikan perjalanan hidupnya yang penuh pengorbanan demi memenuhi impian menjadi pesepak bola profesional saat berlaga di Piala Dunia 2026.
Olmo tumbuh di keluarga pencinta olahraga karena ayahnya merupakan mantan pemain dan pelatih sepak bola di beberapa klub Catalunya, sehingga diskusi mengenai evaluasi pertandingan menjadi makanan sehari-hari.
“A veces acabas enfadado porque sabes que has jugado mal un partido y luego viene tu padre y te lo repite… Pero siempre ha sido para mejor, en ese sentido no me molestaba. Sin embargo, cuando tengo sensaciones buenas después de un partido, me ayuda que me repitan las acciones en las que puedo mejorar. Las entiendo como una suerte” tutur Dani Olmo kepada El País.
Olmo menegaskan bahwa sejak kecil dirinya sudah memiliki target tinggi, dan sang ayah mendampinginya bukan untuk mengkritik kesalahan teknis melainkan mengajari pemahaman posisi dan visi bermain.
“Yo ya era muy exigente conmigo mismo. Pero él me mantenía en alerta. Por ejemplo, hablamos de cómo mejorar los controles, de cómo orientarme más rápido.
No me marcaba errores técnicos o futbolísticos, sino más los de posición. Me decía que tenía que mirar más cómo iba el partido, que pensara en lo que pasaba en el juego. Me enseñaba a leer los partidos” kata Dani Olmo.
Hubungan komunikasi yang sehat ini dinilai Olmo sangat berbeda dari fenomena orang tua pemain lain yang sering kali memaksakan kehendak tanpa dasar pemahaman sepak bola yang baik.
“Hay padres que no tienen ni idea y se creen entrenadores. Eso sí que es malo. Las nuestras, cuando yo era joven, eran conversaciones de fútbol; no era que venía a recriminarme, tipo: ‘Has hecho esto, esto y esto mal’” jelas Dani Olmo.
Perjalanan karier Olmo juga diwarnai keputusan besar ketika ia memilih meninggalkan akademi La Masia milik Barcelona demi merantau ke Dinamo Zagreb di Kroasia saat masih muda, sebelum kemudian berpindah ke Leipzig di Jerman.
“No fue una decisión fácil. Era un cambio grande y poco común” aku Dani Olmo dalam sebuah wawancara di Divinity.
Kepindahan ke Kroasia memaksanya beradaptasi dengan lingkungan dan bahasa baru, hingga sang ibu akhirnya ikut pindah untuk menemaninya di sana agar tidak merasa kesepian.
“Estábamos un poco solos. Solo ella y yo sabemos lo que vivimos allí” pungkas Dani Olmo mengenang masa-masa sulitnya di luar negeri.