Curiosity Temukan Pola Rekahan Poligonal di Valle Grande Mars
Di lereng Gunung Sharp, Kawah Gale—tempat Curiosity milik NASA melintasi lebih dari satu dekade—ada jenis pemandangan yang jarang muncul dalam skala serupa. Dari jarak yang mustahil bagi manusia, wahana penjelajah menangkap pola rekahan yang membentang luas, seperti hamparan mosaik yang tersusun rapi di atas tanah Mars.
Gunung Sharp, setinggi sekitar 5 kilometer, menjadi semacam halaman terbuka bagi ilmuwan planet. Para peneliti meyakini area kaki gunung itu dulunya dialiri danau dan sungai miliaran tahun lalu. Kini, Curiosity baru saja membawa pulang bukti fisik yang memperkuat hipotesis tersebut.
Hamparan “lautan poligon” dari Valle Grande
Pada 19 dan 20 Juni, Curiosity berhasil mengabadikan gambar panorama 360 derajat di dalam sebuah lembah yang dijuluki “Valle Grande”. Dalam tangkapan itu, hamparan permukaan tanah terlihat berpola mirip sarang lebah—bukan sekadar retakan acak, melainkan jaringan rekahan yang teratur dan menyebar ke segala arah dari titik pandang robot penjelajah.
Gambar tersebut lahir dari penggabungan 340 foto individual yang dikirim Curiosity ke Bumi. Meski mendeteksi rekahan poligonal sebelumnya, para ilmuwan belum pernah menemukan pola dengan kemasifan dan keteraturan sejenis pada satu lokasi tertentu.
“Kami telah melihat banyak lanskap menakjubkan melalui lensa Curiosity, tetapi hamparan lautan poligon ini benar-benar membuat kami takjub,” ujar Ashwin Vasavada, ilmuwan proyek Curiosity.
Di balik kekaguman visual, pekerjaan inti tetap bergerak di wilayah data: pengukuran bentuk, susunan kimia, dan upaya membaca petunjuk pembentukan fitur-fitur tersebut dari informasi yang tertanam pada batu dan sedimen Mars.
“Kami mengukur bentuk dan susunan kimianya secara saksama dan berharap ada petunjuk di dalam data mengenai bagaimana fitur-fitur ini terbentuk,” tambahnya, seperti dikutip dari Gizmodo, Senin (3/8/2026).
Rekahan selebar jari di sekitar bukit Miraflores
Rekahan poligonal yang baru ditemukan itu memiliki lebar sekitar 4 hingga 8 sentimeter. Jaringan retakan menyebar luas ke segala arah dari posisi pengamatan robot, seolah-olah seluruh permukaan di sekitar titik itu pernah mengalami proses yang meninggalkan jejak serupa.
Di tengah hamparan tersebut, terdapat sebuah bukit kecil bernama “Miraflores”. Bukit ini tingginya sekitar 6 meter, dengan bagian puncak tertutup lapisan pasir tebal. Keberadaan penanda topografis itu menjadi penting, karena pola rekahan tampak mengelilinginya—sebuah isyarat bahwa proses yang menciptakan rekahan terjadi pada skala yang melibatkan hubungan antara dataran, sedimen, dan struktur lokal di bawah permukaan.
Sebelum Valle Grande menunjukkan pola masif seperti ini, Curiosity sempat menemukan beberapa petak poligon dalam skala yang lebih kecil. Dalam penilaian NASA, beberapa di antaranya terlihat mirip retakan lumpur kuno—pola yang dapat terbentuk melalui beragam proses geologis.
Retak karena suhu, retak karena air yang tersisih
Salah satu penjelasan yang sering diajukan untuk retakan lumpur kuno berkaitan dengan perubahan suhu yang ekstrem dari hangat ke dingin. Saat suhu berganti secara drastis, endapan lumpur dapat mengembang dan menyusut; pada titik tertentu, tegangan yang terkumpul membuatnya retak dan membentuk jaringan poligonal.
Namun, ada juga teori alternatif. Proses pemadatan yang terjadi ketika permukaan terkubur oleh material lain bisa menekan sedimen dari atas hingga memeras air keluar. Ketika air berkurang, perubahan volume dan konsistensi material sedimen dapat memunculkan rekahan—pola yang tampak serupa di permukaan.
Pada titik ini, temuan Curiosity di Valle Grande tidak langsung menyelesaikan perdebatan. Tetapi, kemasifan pola yang terlihat, bersama ukuran rekahan dan konteks topografi di sekitar Miraflores, memberi bahan uji yang lebih kuat bagi para peneliti untuk menilai proses mana yang paling konsisten dengan data.
Jejak perairan purba dan kemungkinan kimia kehidupan
Sejak mendarat di Mars pada 5 Agustus 2012, Curiosity telah membuka petunjuk tentang sejarah perairan kuno—dan, dalam satu napas yang sama, kemungkinan jejak kehidupan di Planet Merah. Jejak tersebut tidak selalu datang dalam bentuk “bukti tunggal”, melainkan rangkaian tanda yang saling melengkapi.
Awal tahun ini, Curiosity bahkan mendeteksi lebih dari 20 molekul organik di batuan pasir Mars yang kaya kandungan tanah liat. Penemuan ini membuat para ilmuwan menatap ulang kemungkinan kimia yang pernah berlangsung di lingkungan Mars jauh di masa lalu.
Deretan molekul yang belum pernah terlihat sebelumnya di Mars ini diyakini sebagai material pendahulu (precursor) bagi terbentuknya RNA dan DNA. Walau demikian, penelitian tetap berada pada batas kehati-hatian: belum bisa dipastikan apakah molekul berbasis karbon tersebut berasal dari proses biologis atau hanya hasil siklus geologis.
Meski begitu, keberadaannya tetap dianggap sangat mendukung gagasan bahwa Mars pernah memiliki kondisi kimia yang tepat untuk menopang kehidupan—setidaknya dari sisi ketersediaan bahan dan jalur pembentukan yang memungkinkan.
Ke mana analisis rekahan poligonal akan membawa pengetahuan berikutnya
Dalam upaya membaca masa lalu Mars, Valle Grande kini menambah satu halaman baru. Poligon-poligon yang membentuk “lautan poligon” bukan hanya menarik secara visual; ia membawa informasi tentang kondisi fisik dan kimia sedimen di tempat dan waktu tertentu. Ukuran rekahan, pola penyebaran, serta hubungan dengan bukit Miraflores dapat membantu merangkai kembali apa yang terjadi ketika wilayah itu dulu dipenuhi air.
Ke depan, analisis lebih lanjut mengenai struktur kimia area poligon di Valle Grande diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang sisa-sisa air purba dan riwayat kelayakan huni di Mars pada masa lalu. Dengan setiap pengukuran baru, Curiosity terus menjadikan Mars bukan sekadar planet dingin di kejauhan—melainkan arsip yang bisa dibaca, lapis demi lapis.