Cuaca Panas Ekstrem Membayangi Pertandingan Piala Dunia 2026

Share

Ancaman cuaca panas ekstrem membayangi pelaksanaan turnamen sepak bola Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Dilansir dari Detik Health yang mengutip laporan The Guardian, kondisi ini memicu usulan penundaan sejumlah pertandingan demi keselamatan para pemain di lapangan.

Sebanyak 9 dari 72 pertandingan pada babak penyisihan grup diperkirakan harus berlangsung dalam kondisi suhu yang sangat tinggi. Beberapa laga tersebut dilaporkan berjalan dalam tingkat wet bulb globe temperatures (WBGT) atau indeks stres panas yang mencapai sekitar 28 derajat celsius.

Dua pertandingan dengan kondisi paling panas tanpa fasilitas pendingin udara terjadi di Stadion Hard Rock Miami, termasuk laga Uruguay melawan Tanjung Verde yang berakhir imbang 2-2 pada 21 Juni. Indeks suhu WBGT pada laga itu diperkirakan menyentuh atau melewati 33 derajat celsius, melampaui rekor tertinggi turnamen sebelumnya yakni 32,9 derajat celsius saat Uruguay menghadapi Arab Saudi enam hari sebelumnya.

Asosiasi pesepak bola internasional menyoroti dampak nyata dari perubahan iklim global terhadap penentuan jadwal kompetisi olahraga di masa depan.

"Pelajaran bagi semua orang di industri ini adalah bahwa dengan pemanasan global, kondisi panas akan memainkan peran yang lebih besar dalam keputusan penjadwalan turnamen dan liga di masa depan," kata seorang juru bicara dari serikat FIFPRO.

Pihak penyelenggara sendiri telah mengoperasikan sistem pendingin di sejumlah stadion untuk melindungi pemain dari risiko sengatan panas atau heat stroke. Penilaian WBGT sendiri berbeda dari suhu udara biasa karena ikut mengukur kelembapan, paparan sinar matahari langsung, serta kecepatan angin.

Badan dunia yang menangani isu lingkungan juga memberikan peringatan keras mengenai dampak nyata dari akumulasi emisi global terhadap aktivitas olahraga.

"Panas ekstrem bukanlah hal yang kebetulan, itu adalah perubahan iklim, yang disebabkan oleh lebih dari satu abad pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas," kata Simon Stiell, sekretaris eksekutif badan iklim PBB.

Kondisi kelembapan dan suhu yang terlalu tinggi dapat menghentikan proses penguapan keringat pada tubuh manusia.

"Ini memengaruhi hal-hal yang kita cintai, seperti sepak bola," sambungnya.

Ketidakmampuan tubuh untuk mendinginkan diri secara efektif di tengah cuaca ekstrem tersebut dapat memicu kelelahan parah, penyakit akibat panas, hingga risiko kematian bagi para atlet.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author