Chris Evert Kritik Kegagalan Aryna Sabalenka di Prancis Terbuka 2026

Share

Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka secara mengejutkan tersingkir dari turnamen Roland Garros setelah mengalami kekalahan tak terduga dari Diana Shnaider pada Rabu, 3 Juni 2026 di Paris.

Petenis asal Belarusia tersebut awalnya memimpin satu set dan unggul dua kali patahan servis dengan skor 4-1 pada set kedua sebelum akhirnya berbalik kalah dengan skor akhir 6-4, 5-7, 0-6.

Hasil ini membuat Sabalenka gagal melaju ke babak semifinal untuk menghadapi petenis kualifikasi Maja Chwalińska, serta menutup peluang menghadapi Marta Kostyuk atau Mirra Andreeva di babak berikutnya.

Kekalahan ini memicu reaksi keras dari legenda tenis Amerika Serikat, Chris Evert, yang bertugas sebagai komentaris siaran langsung pertandingan tersebut untuk saluran TNT Sports.

"I cannot believe what I just saw. Diana Shnaider coming back, it looked like she was going to lose that match, but she just hung in there." kata Chris Evert, Mantan Pemilik 18 Gelar Grand Slam.

Evert menilai kegagalan ini membuat ambisi Sabalenka untuk memenangi turnamen di Paris kembali tertunda akibat ketidakmampuannya mengantisipasi kondisi cuaca di lapangan.

"Aryna’s dream will have to wait another year to try and win the French Open. She just did not have her timing today and did not react to the wind well at all. She was flat-footed, off balance, and she just did not have a good day." ujar Chris Evert, Mantan Pemilik 18 Gelar Grand Slam.

Setelah mencermati jalannya pertandingan secara menyeluruh, Evert kembali memberikan penegasan mengenai kelemahan taktik yang ditunjukkan oleh petenis peringkat satu dunia tersebut.

"I am in shock. It was one of the strangest matches I have ever seen. Where a number one player in the world can be up pretty comfortably and then her timing went off, and she was not adjusting to the wind." cetus Chris Evert, Mantan Pemilik 18 Gelar Grand Slam.

Kritik lebih lanjut diarahkan Evert pada keputusan Sabalenka yang tetap memaksakan pukulan-pukulan agresif mendekati garis lapangan meskipun kondisi angin kencang di Paris sedang menyulitkan.

"Does she not know how to play in the wind? Most top players know how to make those adjustments and are a bit more flexible, but she kept aiming for the lines, which I didn’t think was very smart." tambah Chris Evert, Mantan Pemilik 18 Gelar Grand Slam.

Di sisi lain, Evert memberikan pujian kepada Shnaider yang dinilai tampil lepas dan berani mengambil risiko besar setelah sempat berada di ambang kekalahan.

"Then at 4-1 Diana started hitting those forehands down the lines, and she just went for broke. She thought she was out of the match, and had nothing to lose. She went for forehands down the line and just kept up the pace and never let up. It was an unbelievable match; she is here to stay." pungkas Chris Evert, Mantan Pemilik 18 Gelar Grand Slam.

Kekalahan dramatis ini mengulang memori kelam Sabalenka pada babak final turnamen Roland Garros tahun lalu, di mana ia juga menyia-nyiakan keunggulan besar saat menghadapi Coco Gauff akibat kendala angin kencang yang mengacaukan ritme permainannya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author