Camavinga Hadapi Tekanan Berat di Real Madrid Usai Penampilan Buruk
Gelandang Real Madrid, Eduardo Camavinga, menghadapi tekanan setelah penampilan buruk saat laga persahabatan melawan Fiorentina di Klagenfurt, Austria, Sabtu lalu, di bawah arahan pelatih José Mourinho.
Camavinga menjadi sorotan karena sejumlah kesalahan teknis dan kurangnya konsentrasi yang terlihat jelas sepanjang pertandingan. Meski bermain penuh 90 menit dan mencatatkan satu assist, performanya dinilai jauh dari standar yang diharapkan klub dan media Spanyol.
Media Spanyol memberikan kritik keras terhadap Camavinga. Cadena Ser menyebutnya sebagai "mata rantai terlemah Real Madrid," sementara Tomás Roncero dari harian As menyatakan, "Dia tetap tidak konsisten, mudah terdistraksi, dan rapuh seperti musim sebelumnya yang mengecewakan," dan menambahkan dengan nada sarkastik, "Pemain serba bisa asal Prancis yang dulu bintang muda kini berubah menjadi kegagalan total."
Roncero juga menyoroti bahwa Camavinga tidak mampu memanfaatkan absennya beberapa pemain bintang untuk mengendalikan lini tengah dan gagal memberikan kontribusi signifikan, termasuk menyia-nyiakan peluang emas untuk memberikan gol pertama bagi penyerang baru Espai.
Situasi Camavinga semakin rumit karena penurunan performa yang signifikan sejak musim 2025-2026. Ia tidak berhasil mengamankan posisi utama di tim inti dan bahkan sempat absen dari daftar pemain timnas Prancis di Piala Dunia atas keputusan pelatih Didier Deschamps.
Dalam diskusi di El Larguero, jurnalis Carlos Forjanes dari Diario AS menyebut Camavinga "praktis menjadi bahaya publik saat menguasai bola" dan menilai bahwa pelatih Mourinho tidak mempercayai duet lini tengah Valverde dan Camavinga, terutama terhadap sang pemain asal Prancis.
Forjanes menambahkan, "Kami telah melihat dalam tiga pertandingan pramusim bahwa dia benar-benar berbahaya dengan bola di kakinya. Kepercayaan dirinya nol." Mourinho pun disebut mengandalkan peran Trent Alexander-Arnold yang ditempatkan lebih ke dalam untuk membantu membangun permainan.
Meski demikian, Camavinga sendiri dikabarkan tidak berniat meninggalkan Real Madrid. Setelah dikeluarkan dari daftar Piala Dunia, ia memulai kembali persiapannya dengan program latihan intensif selama jeda musim panas untuk memperbaiki performanya dan bertekad memanfaatkan pramusim untuk merebut kembali tempat di tim utama.
Perubahan di Real Madrid juga memberi peluang bagi pemain lain seperti Arda Güler dan Franco Mastantuono yang juga berusaha memperlihatkan perkembangan di bawah pelatih Mourinho, yang menuntut disiplin, ketegasan taktik, dan performa maksimal dari para pemainnya.