Caca Tengker Bagikan Framework THINK untuk Dampingi Anak Gunakan Internet
Akses internet dan platform media sosial kini semakin mudah dijangkau oleh anak-anak seiring pesatnya perkembangan dunia digital. YouTube menjadi salah satu platform favorit anak-anak untuk mencari hiburan sekaligus menunjang proses pembelajaran sekolah.
Pemanfaatan platform digital sebagai sarana edukasi ini juga diakui oleh mayoritas orang tua. Berdasarkan survei Ipsos di Indonesia, sebanyak 81 persen orang tua setuju bahwa YouTube menjadi sumber penting bagi pembelajaran dan pendidikan anak.
Melihat fenomena tersebut, psikolog klinis Caca Tengker mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak di era digital, seperti dilansir dari HaiBunda. Menurutnya, peran orang tua bukan menjauhkan teknologi, melainkan membangun hubungan yang sehat dengannya.
"Teknologi adalah bagian dari realitas yang dihadapi anak-anak saat ini. Karena itu, fokus kita bukan sekadar membatasi penggunaan gadget, tetapi membantu anak memahami cara menggunakannya dengan tujuan yang jelas, mengenali batasannya, dan tetap memiliki keseimbangan dengan aktivitas di dunia nyata," kata Caca.
"Pendampingan dan komunikasi yang terbuka dari orang tua menjadi kunci dalam proses tersebut," sambungnya.
Orang tua diimbau untuk memahami kebutuhan pribadi terlebih dahulu sebelum mengenalkan dunia digital kepada anak. Media digital sebaiknya tidak disalahgunakan hanya sebagai platform hiburan semata.
"Jadi lihat kebutuhan pribadi orang tuanya juga, jangan sampai teknologi dianggap lebih menyenangkan daripada berinteraksi dengan orang tua," ungkap Caca.
"Kita sebagai orang tua tetap menjadi sumber informasi utama anak. Tapi YouTube bisa menjadi pendukung kecakapan mereka di dunia digital," lanjutnya.
Guna melatih anak agar lebih bijak dalam menggunakan internet, Caca menerapkan metode khusus bernama framework THINK (True, Helpful, Inspiring, Necessary, Kind).
1. True
Pendekatan ini bertujuan memancing penalaran anak mengenai kebenaran dari konten yang mereka lihat di internet.
"Ketika melihat sesuatu di internet, kita tanya ke anak, is it true? Apakah hal itu benar? Pertanyaan tersebut akan memancing judgment anak untuk tahu benar atau tidak," ungkap Caca.
2. Helpful
Poin ini berfungsi untuk melatih dan memancing kemampuan empati anak terhadap konten yang dikonsumsi.
"Helpful ini memancing kemampuan berempati. Jadi, yang kita tonton itu ada kebaikannya enggak sih buat orang lain?" kata Caca.
3. Inspiring
Fokus tahap ini adalah kemampuan anak dalam menilai manfaat dari tontonan mereka, apakah mampu menggugah keinginan belajar atau menginspirasi orang lain.
4. Necessary
Melalui poin ini, orang tua mengajarkan anak untuk menilai serta memilih tontonan berdasarkan penting atau tidaknya konten tersebut.
5. Kind
Prinsip terakhir ini menekankan penilaian apakah konten yang disajikan baik untuk anak, sekaligus memperkuat rasa empati mereka dalam menjelajahi dunia digital.
Pemberian perlindungan dan kepercayaan mengenai dunia digital juga harus disesuaikan dengan usia anak agar mereka tetap terlindungi saat berselancar di internet.
"Memberikan perlindungan dan kepercayaan pada anak terkait dunia digital perlu disesuaikan dengan usianya. Lalu, berikan pengertian kalau anak sudah percaya sama kita," ungkap Caca.
Orang tua yang memutuskan mengenalkan internet sejak dini disarankan untuk mengaktifkan fitur-fitur keamanan anak. Platform seperti YouTube sudah menyediakan beberapa fitur kontrol bagi orang tua untuk mengawasi penggunaan gadget.