Bursa Saham Global Cetak Rekor Tertinggi dan Harga Minyak Merosot
Bursa saham global melonjak hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, sedangkan harga minyak mentah dunia merosot tajam pada awal pekan ini akibat sinyal kuat kesepakatan Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, dilansir dari Bloombergtechnoz pada perdagangan Senin (25/5).
Lonjakan pasar ekuitas ini tecermin dari kenaikan kontrak berjangka indeks S&P 500 sebesar 1% dan Nasdaq 100 yang melonjak 1,4%, meskipun pasar spot keuangan AS tutup karena peringatan Memorial Day. Indeks Dunia MSCI All Country turut naik 0,5% ke level penutupan tertinggi sepanjang sejarah, diikuti penguatan indeks Stoxx 600 di Eropa selama enam sesi berturut-turut.
Di sisi lain, harga minyak mentah WTI anjlok lebih dari 6% ke kisaran US$90 per barel karena pelaku pasar optimis arus pasokan minyak di Timur Tengah akan pulih. Pelonggaran ketegangan geopolitik ini mengakhiri kebuntuan negosiasi selama berminggu-minggu, yang kini berjalan beriringan dengan antusiasme pasar terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).
“Faktor FOMO yang kuat turut mendorong selera risiko global yang lebih tinggi dari perkiraan: investor tidak ingin tertinggal jika perang Iran berakhir sementara tema AI terus mengangkat pasar saham,” kata strategist SEB, Dana Malas.
Sentimen positif ini membawa indeks saham acuan Italia melampaui rekor tertinggi tahun 2000 berkat reli saham energi serta chip, sementara saham Delivery Hero SE di Eropa melonjak di atas 10% setelah menerima tawaran akuisisi senilai 10 miliar euro dari Uber Technologies Inc. Terkait perkembangan diplomasi, Presiden AS Donald Trump memberikan konfirmasi mengenai jalannya perundingan.
“berjalan dengan baik.” kata Presiden AS Donald Trump, mengenai negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran.
Kendati demikian, Trump juga memberikan penegasan bahwa pihak pemerintah tidak akan terburu-buru dalam menyelesaikan kesepakatan tersebut. Di samping itu, delegasi dari Iran terpantau telah melakukan perjalanan ke Doha demi berkonsultasi dengan pejabat senior Qatar guna membahas pencairan dana mereka yang dibekukan.
“tidak akan “terburu-buru” mencapai perjanjian.” kata Presiden AS Donald Trump.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut menambahkan bahwa proses diplomasi masih berjalan dan pemerintah AS terus membuka segala kesempatan yang ada. Sementara itu, respons berbeda datang dari pengamat pasar yang menilai kepastian dari sentimen positif tersebut sebetulnya sudah diantisipasi oleh para investor.
“Setelah pergerakan pasar hari ini, skenario yang paling mungkin tampaknya sudah banyak diperhitungkan pasar,” ujar Kepala Strategi Singular Bank Roberto Scholtes Ruiz.
Scholtes Ruiz memproyeksikan akan muncul fenomena penurunan harga setelah berita resmi dirilis, sehingga ia memilih membatasi penambahan eksposur saham. Di tengah situasi tersebut, fokus pelaku pasar juga tertuju pada inflasi global menjelang rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS dan inflasi Eropa pekan ini.
“Karena itu, saya memperkirakan akan muncul dinamika ‘sell the news’ begitu kesepakatan benar-benar tercapai, dan saya akan menahan diri untuk menambah eksposur saham sampai kurva imbal hasil turun.” ujar Kepala Strategi Singular Bank Roberto Scholtes Ruiz.
Ekspektasi pasar kini sepenuhnya memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve sebelum akhir tahun di bawah kepemimpinan Gubernur baru, Kevin Warsh, yang resmi dilantik pada Jumat lalu. Walau Trump menginginkan independensi penuh bagi Warsh, BlackRock Inc menilai bank sentral tersebut justru memiliki alasan kuat untuk memotong suku bunga.
Pada perkembangan lain di Asia, China meluncurkan kampanye agresif terhadap perdagangan lintas batas ilegal demi menghentikan arus keluar modal. Pemerintah Beijing mengancam broker populer dengan hukuman berat serta menginstruksikan likuidasi akun-akun yang tidak patuh dalam jangka waktu dua tahun.