Bursa Saham Asia Bersiap Menguat Ditopang Sentimen Positif Sektor AI
Pasar saham di Asia bersiap mencatatkan penguatan yang signifikan pada perdagangan Kamis, 25 Juni 2026. Pergerakan positif ini dipicu oleh reli kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat.
Seperti diberitakan oleh Bloombergtechnoz, peningkatan kepercayaan pasar ini kembali pulih setelah produsen cip Micron Technology Inc merilis proyeksi bisnis yang optimistis terhadap prospek investasi sektor kecerdasan buatan (AI).
Kontrak Nasdaq 100 terpantau naik hampir 2%, sementara kontrak S&P 500 menguat 0,6% pada perdagangan awal di Asia. Kenaikan ini juga diikuti oleh kontrak berjangka indeks saham Jepang, Australia, dan Korea Selatan.
Saham Micron Technology Inc melonjak sekitar 15% dalam perdagangan pasca-penutupan pasar. Proyeksi penjualan kuartalan perusahaan tersebut melampaui estimasi Wall Street dan menandakan pertumbuhan yang didorong AI masih kuat.
Sentimen positif dari kinerja perusahaan cip ini dipadukan dengan penurunan harga minyak global. Kondisi tersebut diperkirakan memberikan angin segar bagi investor saham di Asia setelah melemah selama dua hari terakhir.
Minyak mentah Brent merosot lebih dari 4% pada sesi sebelumnya hingga ditutup di bawah US$74 per barel. Penurunan dipicu oleh pasokan yang meningkat serta kemajuan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Micron "jauh melampaui ekspektasi analis dan, yang terpenting, memproyeksikan permintaan chip yang kuat ke depan," kata Kyle Rodda, analis di Capital.com.
"Kontrak berjangka saham AS telah lebih dari sekadar menutupi kerugian yang terjadi pada perdagangan reguler, sehingga menempatkan pasar Asia pada posisi yang jauh lebih positif."
Laporan keuangan produsen cip asal AS tersebut dipublikasikan pada momen krusial saat saham teknologi sedang tertekan. Bersama Samsung Electronics Co dan SK Hynix Inc, Micron menjadi entitas yang diuntungkan dari belanja pusat data AI.
Permintaan terhadap komponen canggih seperti high-bandwidth memory (HBM) terus melampaui kapasitas pasokan. Sektor ini kian bergairah setelah SK Hynix mengumumkan rencana pencatatan saham di Amerika Serikat untuk menghimpun dana sekitar US$29 miIiar.
“Ketika saham naik terlalu tinggi dan terlalu cepat, koreksi hampir selalu terjadi,” kata Rick Gardner dari RGA Investments.
“Kami jauh lebih memilih membeli saham teknologi ketika sedang turun, dan koreksi ini bisa menjadi peluang bagi investor yang belum memiliki eksposur memadai di sektor yang secara fundamental masih sangat kuat.”
Di sisi lain, penurunan harga komoditas minyak turut meredakan kecemasan terhadap laju inflasi global. Situasi ini memicu reli obligasi pemerintah AS menjelang rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE).
Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun merosot sebesar 11 basis poin, sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun menyentuh angka 4,85%. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun yang sensitif kebijakan bank sentral turun ke kisaran 4,15%.Pergerakan ini memperlihatkan adanya penilaian ulang pelaku pasar terhadap arah suku bunga Federal Reserve. Padahal, sepekan lalu pasar berspekulasi bahwa bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga bulan depan di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.
“Inflasi akan turun secara signifikan,” kata Raghav Datla, ahli strategi suku bunga di Citigroup Inc.
Kendati demikian, indikator inflasi terbaru diperkirakan tidak akan mengubah pandangan para pejabat bank sentral terkait urgensi kenaikan suku bunga. Ekonom memproyeksikan indeks PCE Mei masih akan menunjukkan percepatan.