Bursa Saham Asia Menguat Saat Harga Minyak Dunia Melemah Tipis
Pasar ekuitas di kawasan Asia mencatatkan pertumbuhan positif pada awal perdagangan pekan ini. Kondisi tersebut berjalan beriringan dengan kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat yang mempertahankan keuntungan berkat pemulihan berkelanjutan pada saham teknologi.
Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, Indeks MSCI Asia Pasifik merangkak naik 0,5 persen dengan perbandingan saham yang menguat melampaui yang melemah lebih dari dua banding satu. Di Korea Selatan, Indeks Kospi melonjak 2,2 persen menjelang rencana pencatatan saham perdana SK Hynix Inc di bursa AS senilai US$29 miliar.
Sementara itu, kontrak berjangka untuk indeks Wall Street tetap kokoh mempertahankan tren positif. Kontrak berjangka indeks S&P 500 mengalami kenaikan 0,5 persen, sedangkan kontrak berjangka Nasdaq 100 melesat hingga 1,4 persen.
Di sektor energi, harga minyak dunia terpangkas akibat kelancaran arus logistik di Selat Hormuz serta rencana aliansi OPEC+ untuk menggenjot pasokan. Minyak mentah jenis Brent melemah 0,3 persen ke level US$71,88 per barel seiring aktivitas pelayaran yang dilindungi AS mulai pulih.
Negara anggota OPEC+ juga telah menyatakan dukungan untuk menaikkan kuota produksi kolektif mereka secara moderat pada bulan depan. Di sisi lain, komoditas emas batangan memangkas keuntungan awalnya dan diperdagangkan di kisaran US$4.175 per ons, sementara harga perak naik 0,4 persen menjadi sekitar US$62,66 per ons.
Memasuki paruh kedua tahun ini, para investor bersikap cenderung berhati-hati dalam mencermati dampak lanjutan guncangan energi akibat konflik Iran. Pelaku pasar juga menakar sejauh mana reli saham berbasis kecerdasan buatan dapat terus bertahan.
"Saham teknologi dan indeks-indeks yang didominasi sektor teknologi di AS dan Asia telah memasuki periode konsolidasi menjelang musim rilis laporan keuangan kuartal kedua," kata Tony Sycamore, seorang analis di IG Markets yang berbasis di Sydney.
Revisi Proyeksi Mata Uang Yen
Dari pasar valuta asing, Goldman Sachs Group Inc merevisi proyeksi mata uang yen menjadi 165 per dolar AS untuk jangka waktu satu tahun ke depan dari perkiraan sebelumnya di level 155. Mata uang Jepang tersebut ditransaksikan di level 161,45 per dolar AS pada perdagangan awal di Asia.
"Latar belakang makroekonomi yang lebih luas, seperti imbal hasil (yield) obligasi AS yang bertahan tinggi untuk waktu lebih lama (higher-for-longer), rendahnya risiko resesi, kekhawatiran fiskal yang masih membayangi, serta langkah Bank Sentral Jepang (BOJ) yang hanya menaikkan suku bunga secara bertahap, menjadi argumen kuat yang terus menekan depresiasi nilai tukar yen," tulis para ahli strategi Goldman Sachs, termasuk Kamakshya Trivedi, dalam nota analisisnya.
Di tempat lain, mata uang won Korea Selatan bergerak stabil setelah berhasil rebound dari level terlemahnya terhadap dolar AS sejak tahun 2009. Otoritas moneter setempat dilaporkan tengah bersiap mengantisipasi arus lalu lintas mata uang terkait penerbitan sertifikat penitipan efek Amerika oleh SK Hynix.
Langkah Korea Selatan membuka perdagangan mata uang won selama 24 jam penuh menjadi strategi utama Seoul meningkatkan akses investor asing. Langkah ini sekaligus memperkuat argumen agar status pasar saham mereka ditingkatkan ke dalam indeks pasar maju oleh MSCI Inc.
Perkembangan Pasar Obligasi
Pasar obligasi pemerintah AS bergerak stabil seiring dibukanya kembali perdagangan setelah libur nasional. Pekan ini, pasar obligasi akan menghadapi uji permintaan investor melalui lelang Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun di tengah minimnya rilis data ekonomi penting.
Proses lelang tersebut berjalan bertepatan dengan rencana pasar untuk membedah secara cermat risalah pertemuan The Fed bulan Juni yang akan segera dirilis. Hal ini terjadi setelah Gubernur The Fed Kevin Warsh mulai melunakkan sikap hawkish-nya terkait inflasi.
Para pelaku pasar mulai memangkas ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Sikap tersebut menyusul rilis data lapangan kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan serta komentar Warsh yang menyebutkan bahwa tekanan inflasi kini telah mereda.