BNPB Kerahkan Helikopter Padamkan Kebakaran di Gunung Bromo

Share

Kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, masih berlangsung dan telah meluas hingga sekitar 10 hektare, sehingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan dua unit helikopter untuk membantu pemadaman pada Kamis, 6 Agustus 2026.

Luas lahan yang terbakar di Blok Bantengan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus bertambah dari data awal 7,9 hektare hingga 10 hektare, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo. Titik api belum sepenuhnya padam dan masih menyebar di lokasi yang sulit dijangkau karena medan curam dan angin kencang.

Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, menjelaskan, "Berdasarkan laporan petugas di lapangan, kondisi hari ini titik api masih belum padam, sehingga petugas terus melakukan upaya pemadaman ke sejumlah titik api."

Petugas gabungan dari BPBD, Perhutani, TNI/Polri, Balai Besar TNBTS, dan relawan menggunakan peralatan manual seperti kepyok dan backpack sprayer untuk memadamkan api. Oemar menambahkan, "Alat pemukul api (kepyok) yang dimiliki petugas sudah rusak semua karena digunakan secara masif saat memadamkan karhutla, namun petugas tetap memadamkan api dengan menggunakan ranting pohon yang ada."

Selain itu, akses wisata Gunung Bromo dari pintu masuk Jemplang, Coban Trisula di Kabupaten Malang, dan Senduro di Kabupaten Lumajang ditutup sejak Senin malam untuk memaksimalkan pemadaman dan menjaga keselamatan wisatawan. Penutupan ini diberlakukan tanpa batas waktu yang ditentukan, sementara wisatawan masih bisa masuk melalui pintu Cemoro Lawang dan Wonokitri dengan area terbatas.

Kepala BNPB, Letjen TNI Suhariyanto, menyatakan bahwa pengerahan helikopter water bombing diperlukan karena medan yang curam mencapai kemiringan sekitar 80 derajat menyulitkan pemadaman dari darat. "Satgas darat sudah berupaya melakukan pemadaman. Namun, karena medannya sangat sulit dan lokasi yang terbakar berada di area yang sulit dijangkau, mereka meminta bantuan pemadaman dari udara menggunakan helikopter water bombing," ujarnya.

Suhariyanto menambahkan, "Kami akan mendukung dengan dua unit helikopter." Dua helikopter tersebut dijadwalkan tiba di Malang pada 6 Agustus 2026 dan akan segera bergabung dalam operasi pemadaman di Gunung Bromo.

BNPB juga mengkaji pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya mempercepat pemadaman, namun rencana ini masih menunggu pertumbuhan awan hujan yang sesuai. "Kami sudah berkoordinasi dengan BMKG terkait kemungkinan operasi modifikasi cuaca. Tetapi, sampai siang ini masih belum ada pertumbuhan awan hujan, sehingga dalam beberapa hari operasi modifikasi cuaca belum bisa diselenggarakan," kata Suhariyanto.

Penggunaan helikopter water bombing bukan kali pertama diterapkan di Bromo. Pengalaman pada kebakaran 2023 menunjukkan dua helikopter mampu membantu mengendalikan api. "Berdasarkan pengalaman pada tahun 2023, saat Gunung Bromo juga terbakar, dua unit helikopter water bombing mampu membantu memadamkan kebakaran lahan tersebut," ujar Suhariyanto.

Kebakaran yang terjadi sejak Senin, 3 Agustus 2026 pukul 17.00 WIB ini memaksa penutupan akses wisata agar proses pemadaman dapat berjalan optimal dan wisatawan tetap aman selama kebakaran berlangsung, kata Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bnpb Gunung Bromo karhutla
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author