BMKG Memprediksi Musim Kemarau di Gorontalo Berlangsung Delapan Bulan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan durasi musim kemarau di sejumlah wilayah Provinsi Gorontalo berpotensi berlangsung lama hingga mencapai delapan bulan akibat pengaruh fenomena global.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Gorontalo, Merpati Teodoris Nalle menjelaskan bahwa durasi masa kering tersebut diperkirakan berkisar antara 11 sampai 25 dasarian akibat datangnya musim kemarau yang lebih awal satu dasarian dari rata-ratanya.
Kondisi kemarau panjang yang dipicu oleh kombinasi musim kemarau dan fenomena El Nino ini tidak melanda seluruh wilayah secara merata, melainkan memiliki perbedaan durasi yang signifikan antar-kecamatan.
“Musim kemarau itu biasanya kita tentukan kalau misalnya dalam 10 hari curah hujannya tidak mencapai 50 mm,” ujar Merpati.
Penetapan awal musim kemarau tersebut merujuk pada perhitungan jumlah curah hujan dalam satu periode dasarian atau sepuluh hari kerja pemantauan meteorologi.
“Jadi kalau misalnya dalam 10 harian ada hujan tapi kurang dari 50 mm dan diikuti oleh 2 dasarian berikutnya berturut-turut, maka kami menetapkan bahwa itu masuk musim kemarau karena curah hujan kurang dari 50 mm,” lanjut Merpati.
Menurut penjelasan Merpati, pergeseran dan majunya awal musim kemarau di wilayah Gorontalo ini sangat dipengaruhi oleh fenomena iklim global yang sedang terjadi.
“Antara musim kemarau ditambah dengan fenomena El Niño, makanya awal musim kemarau itu maju di Gorontalo sekitar satu dasarian rata-ratanya,” ungkap Merpati.
Berdasarkan data pemetaan BMKG, wilayah Tilamuta dan Dulupi di bagian selatan Boalemo diproyeksikan menjadi daerah yang mengalami masa kekeringan paling ekstrem.
“Dan juga nanti imbasnya dengan panjang musim kemarau itu sendiri. Dari kami prediksinya itu sekitar 11 sampai 25 dasarian,” ucap Merpati.
Wilayah Boalemo sebagian kecil serta kawasan selatan menjadi titik fokus pengamatan karena durasi kemaraunya diprediksi melampaui wilayah lain.
“Itu yang paling panjang musim kemaraunya, kami prediksi di sebagian kecil Boalemo dan bagian selatan yaitu Tilamuta dan Dulupi,” sambung Merpati.
Sebaliknya, BMKG juga memetakan area dengan durasi kemarau paling pendek yang tersebar di beberapa titik kabupaten dan kota.
“Terus yang paling pendek yaitu di Suwawa bagian tengah, sebagian kecil Boalemo bagian barat laut, sebagian Bone Bolango bagian barat daya, sebagian kecil Boalemo, sebagian Gorontalo bagian selatan, seluruh Kota Gorontalo dan sebagian Pohuwato bagian selatan. Itu antara yang paling panjang dan paling pendek,” pungkas Merpati.
Secara umum, pemantauan indeks atmosfer global dari BMKG pusat pada dasarian III Juni 2026 menunjukkan indeks IOD bulanan berada pada angka -0.367 (-0.387) dan nilai SSTA di region Nino3.4 yang belum dikategorikan fenomena IOD negatif karena baru berjalan dua bulan.
“Dan yang paling panjang itu di daerah Tilamuta dan Dulupi itu sekitar 25 dasarian, sekitar 8 bulanan. Dan nanti prediksi kami bahwa daerah situ sampai awal tahun masih musim kemarau,” tutup Merpati.