Bernadya Gelar Showcase Megah di Tennis Indoor Senayan
Bernadya sukses menggelar showcase bertajuk Semoga Hanya di Mimpi di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu malam, menandai lompatan besar dalam karier penyanyi berusia 22 tahun tersebut, dilansir dari Detikcom.
Ini merupakan konser terbesarnya sejak Babak Penutup: Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan tahun lalu, dengan skala venue yang jauh lebih megah dan persiapan yang matang.
Mendekati penampilan, Bernadya mengaku sangat gugup, bahkan rasa panik menghampiri tiap hari selama masa persiapan.
"Karena aku nervous ya. Jadi setiap harinya tuh terasa kayak 'Ah! 10 hari lagi!', 'Ah! 3 hari lagi!' gitu. Jadi setiap hari itu isinya mulas, panik. Cepat banget," ujar Bernadya saat jumpa pers sebelum manggung.
Bernadya menggandeng sutradara sekaligus drummer band Seringai, Edy Khemod, sebagai creative director untuk menghadirkan konsep dengan estetika era 2000-an yang lebih terkonsep dan detail.
"Karena ini… kita langsung sebuah lompatan yang apa… this is a leap gitu ya dalam hal ini kan kalau ngobrolin venue. Jadi tentu yang kita tampilkan juga jauh lebih niat, jauh lebih kita persiapkan dari yang sudah-sudah," tegas Bernadya.
"Dan ini kali pertamanya aku juga menggandeng Mas Edy Khemod di situ. Jadi kali ini jauh lebih apa ya, lebih terkonsep. Bukan gak terkonsep (sebelumnya), maksudnya ada alurnya, ada alurnya lebih detail, treatment per lagunya itu lebih kita pikirkan gitu," tambahnya.
Keputusan menggandeng Edy Khemod berawal dari diskusi dengan CEO Juni Group, Boim, yang ingin menghadirkan sosok berpengalaman dari era 2000-an.
"Kami rasa kayaknya kami tidak cukup… (tua). Eh, beliau ini (Boim) juga cukup tua sih. Gimana ya?" ucap Bernadya sambil tertawa.
"Aku ngobrol sama Mas Boim waktu itu, 'Mas Boim, aku mau yang gini, gini, gini.' Oh, tapi kayaknya kita butuh seseorang yang bener-bener di era itu sudah melakukan sesuatu," ceritanya.
Edy Khemod menyambut antusias konsep nostalgia ini dan menyatakan bahwa tema mimpi yang dibawakan Bernadya diterjemahkan ke dalam pertunjukan dengan nuansa era 2000-an.
"Jadi, menarik tema yang dibawakan Nadya itu. Obrolan awal adalah soal mimpi, nge-translate mimpi, membawa penonton ke mimpinya dengan tema 2000-annya," tutur Edy.
"Ada beberapa treatment pertunjukan yang menurut kita menarik. Jadi di sini kita akan, rencananya ada showcase full album ya. Kemudian bisa kita lanjut ke showcase lagu-lagu yang tentunya teman-teman familiar dengan lagu-lagunya," pungkasnya.
Konser dibuka oleh girl group rookie Marbles yang membawakan single baru dan lagu debut mereka, menyemarakkan suasana sebelum Bernadya tampil.
Pada babak pertama, Bernadya tampil mengenakan piyama lengkap dengan homeband yang juga berpakaian serupa, membawakan seluruh lagu dari album barunya dengan suasana melankolis dan visual panggung magis.
Kejutan terjadi saat Rendy Pandugo naik ke panggung mengiringi lagu Tolong Bilang Ini Mimpi dengan gitar.
Setelah jeda, Bernadya kembali dengan balutan baju cokelat membawakan lagu-lagu hits lamanya yang disambut antusias penonton, termasuk Apa Mungkin, Kata Mereka Ini Berlebihan, Sinyal Sinyal, hingga Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan.
Menjelang akhir, Tenxi muncul mengubah lagu Untungnya, Hidup Terus Berjalan menjadi versi hipdut yang energetik, menambah kemeriahan konser.