Belgia Singkirkan Amerika Serikat dari Piala Dunia 2026
Tim nasional Belgia berhasil menyingkirkan tuan rumah Amerika Serikat dengan skor 4-1 pada laga babak gugur Piala Dunia 2026 di Seattle, setelah diwarnai kontroversi penangguhan sanksi kartu merah penyerang AS Folarin Balogun oleh FIFA, dilansir dari Detikcom.
Kemenangan Belgia dipastikan melalui dua gol Charles De Ketelaere, serta masing-masing satu gol dari Hans Vanaken dan Romelu Lukaku, sementara Amerika Serikat hanya mampu membalas lewat gol Malik Tillman pada menit ke-31.
Sebelum pertandingan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kontroversi setelah membenarkan bahwa dirinya meminta FIFA meninjau ulang sanksi kartu merah Folarin Balogun yang diterima saat melawan Bosnia dan Herzegovina pada hari Senin (06/07) waktu setempat.
"Menurut saya, itu adalah dua atlet hebat yang bertabrakan dan saling terjerat," kata Trump.
Intervensi tersebut diduga membuat FIFA mengaktifkan Pasal 27 untuk menangguhkan hukuman Balogun selama masa percobaan satu tahun, meski aturan awal melarang pengajuan banding atas kartu merah langsung.
"Saya rasa (sanksi) itu akan meninggalkan noda besar. Saya tidak bisa mendikte keputusan mereka. Saya percaya bukan mereka yang memutuskan, saya yakin keputusan itu diambil oleh komisi disiplin. Itu keputusan yang tepat." kata Trump.
Melalui media sosial Truth Social, Trump kemudian menyampaikan apresiasinya terhadap federasi sepak bola internasional tersebut setelah sanksi resmi ditangguhkan.
"Terima kasih kepada FIFA yang telah melakukan hal yang benar dan membalikkan ketidakadilan besar!" kata Trump.
Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) langsung melayangkan protes keras pada hari Minggu (05/06) dan sempat mengajukan banding yang akhirnya ditolak oleh komite banding FIFA beberapa jam sebelum pertandingan dimulai.
"I tidak tahu kalau 5 Juli itu sama dengan 1 April (Hari April Mop) di FIFA," kata Rudi Garcia, pelatih Belgia.
Pelatih Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, menilai bahwa situasi ini sengaja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki agenda tersendiri di luar konteks olahraga.
"Kalau ada yang dirugikan dalam situasi ini, justru itu adalah Amerika Serikat. Adakah yang bisa membenarkan anggapan bahwa kami tidak dihukum? Maksud saya, bermain 30 sampai 35 menit dengan sepuluh pemain di laga knockout Piala Dunia?
Itu bukan keuntungan buat kami. Pada akhirnya, kami bukan korban, tapi kami juga bukan penjahat dalam cerita ini." kata Pochettino.
Kritik tajam juga datang dari lingkungan internal UEFA dan tim nasional lain, termasuk pelatih Norwegia Stale Solbakken yang menilai penangguhan ini sebagai preseden buruk bagi kredibilitas turnamen.
"Ini kesalahan besar dari FIFA. Bukan kesimpulan yang tepat. Dia mendapat kartu merah dan VAR memastikan itu kartu merah. Artinya dia harus absen satu laga," kata Solbakken.
Solbakken juga menambahkan bahwa jika Amerika Serikat berhasil menang, mereka akan selalu memikul beban moral akibat keputusan kontroversial tersebut.
"Menurut saya, hal yang sangat buruk dari situasi ini adalah, jika AS mengalahkan Belgia, mereka akan selalu memiliki beban tambahan terkait hal itu. Para pemain Belgia pasti akan sangat marah." kata Solbakken.
Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) Bernd Neuendorf mendesak FIFA untuk segera memberikan klarifikasi menyeluruh guna menjaga integritas kompetisi dari pengaruh politik luar.
"Kesan bahwa ada intervensi politik aktif dalam olahraga harus segera dihilangkan secara tuntas. Integritas kompetisi dan kredibilitas FIFA jadi taruhannya," kata Neuendorf.
Manajer tim nasional Inggris Thomas Tuchel turut mempertanyakan batasan regulasi FIFA apabila kartu merah yang sudah dikonfirmasi VAR dapat dibatalkan begitu saja.
"Di mana batasnya dan di mana ini berakhir? Bisa dibatalkan atau tidak? Apa yang sebenarnya terjadi?
Di mana garis batasnya, itu pertanyaan saya. Saya tidak punya jawabannya," kata Tuchel.
Merespons gelombang kritik tersebut, Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa keputusan penangguhan murni berasal dari komite disiplin yang independen tanpa intervensi pihak luar.
"Dalam percakapan kami, saya jelaskan bahwa ada proses hukum yang sedang berjalan," kata Infantino.
Infantino menekankan bahwa sistem yudisial di dalam badan sepak bola dunia tersebut tetap berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku secara objektif.
"Begitulah cara kerja sistem FIFA dan ini prinsip yang akan selalu saya pegang," kata Infantino.
Kekalahan dari Belgia ini memastikan Amerika Serikat menjadi negara tuan rumah terakhir yang tersingkir, sementara Belgia dijadwalkan menghadapi Spanyol di Los Angeles pada Jumat, 10 Juli.