BEI Pertahankan Saham GOTO dalam Indeks Likuid Utama

Share

Bursa Efek Indonesia (BEI) mempertahankan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dalam jajaran indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 hingga Rabu, 29 Juli 2026. Langkah ini diambil kendati pergerakan harga saham emiten teknologi tersebut tertahan di level Rp50 sejak awal Mei 2026.

Otoritas bursa menegaskan bahwa penentuan posisi konstituen indeks mengacu pada rekam jejak likuiditas jangka panjang perseroan. Evaluasi ini tidak semata-mata didasarkan pada dinamika performa transaksi jangka pendek.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menyampaikan bahwa penilaian indeks mengukur rata-rata aktivitas transaksi saham dalam rentang waktu enam hingga dua belas bulan sebelum proses evaluasi dilakukan.

"Liquidity-nya kayaknya enggak dihitung cuma sebulan-dua bulan. Kayaknya average (rata-rata) 6 atau 12 bulan terakhir sebelum evaluasi," terang Irvan.

Pihak otoritas menilai penurunan volume perdagangan GOTO baru berlangsung beberapa bulan terakhir setelah sebelumnya tercatat sangat aktif. Saham perseroan pun dinilai masih memenuhi seluruh parameter kuantitatif untuk berada dalam ketiga indeks utama bursa.

"Kita tidak melakukan perubahan di perhitungan kuantitatif indeks konstituen. Jadi kalau dia (GOTO) masih ada, berarti mungkin di bulan-bulan sebelumnya memang liquidity-nya masih kencang," ujar Irvan.

Di tengah pergerakan saham yang stagnan, manajemen GoTo mencatatkan peningkatan kinerja keuangan dengan membukukan laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II 2026. Capaian ini melanjutkan tren positif setelah perusahaan meraih laba bersih Rp171 miliar pada triwulan pertama tahun berjalan.

Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo menjelaskan bahwa capaian laba berturut-turut tersebut memperkuat fondasi operasional serta menjaga keseimbangan ekosistem bisnis perseroan.

“Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya hingga melampaui Rp1 triliun untuk pertama kalinya,” ujarnya.

Peningkatan finansial perseroan ditopang oleh Gross Transaction Value (GTV) inti yang melonjak 83 persen menjadi Rp164 triliun serta kenaikan pendapatan bersih 31 persen mencapai Rp5,7 triliun. Lini bisnis keuangan melalui GoPay mencatatkan kenaikan EBITDA yang disesuaikan sebesar 447 persen hingga menyentuh Rp481 miliar.

“Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul dan kini profitabilitasnya telah melampaui bisnis On-demand Services untuk first time. Hal ini menunjukkan kekuatan dan keseimbangan ekosistem kami,” sambungnya.

Sementara pada segmen layanan on-demand atau Gojek, GoTo mengantongi pendapatan bersih Rp3,6 triliun. Perseroan kini bersiap menerapkan struktur komisi baru sebesar 8 persen bagi mitra GoRide sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 yang berlaku sejak 1 Juli 2026.

“Penyesuaian ini memang tidak mudah, tetapi kami percaya dapat mengelola dampaknya dengan baik. Karena itu, kami tetap mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan sepanjang 2026 di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun,” jelasnya.

Selain mencatatkan 71 juta pengguna aktif tahunan, manajemen GoTo juga berencana membatalkan 32 miliar saham tresuri atau setara 2,7 persen dari total modal ditempatkan usai mengantongi persetujuan RUPSLB.

“Seiring berkembangnya ekosistem, kami terus berinvestasi untuk mendukung pelanggan, termasuk para Mitra Driver Gojek. Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,” ungkapnya.

Hingga akhir tahun 2026, GoTo menargetkan kontribusi bisnis fintech sebesar Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun. Sementara lini bisnis on-demand services diproyeksikan menyumbang kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: BEI GOTO pasar modal Saham GOTO
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author