Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan untuk Memperkuat Rupiah

Share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat ke level Rp18.058 pada perdagangan Selasa (9/6/2026) setelah Bank Indonesia secara mendadak menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Penguatan mata uang Garuda ini terjadi di tengah penurunan cadangan devisa nasional dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari ekonomi.republika.co.id, rupiah menguat 129,5 poin atau 0,71 persen dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.187 per dolar AS. Pada pembukaan pagi hari, data Refinitiv melalui cnbcindonesia.com mencatat rupiah sempat dibuka pada level Rp18.160 per dolar AS seiring dengan rebound Indeks Harga Saham Gabungan yang menguat lebih dari 1 persen.

Pelemahan dolar AS tidak hanya terjadi terhadap rupiah, tetapi juga melanda mayoritas mata uang global lainnya. Data Bloomberg di finance.detik.com menunjukkan mata uang Negeri Paman Sam tersebut ikut terdepresiasi terhadap dolar Australia sebesar 0,18 persen, euro 0,05 persen, dolar Singapura 0,11 persen, yuan China 0,07 persen, ringgit Malaysia 0,31 persen, dan baht Thailand 0,10 persen.

Kenaikan BI Rate diambil sebagai langkah intervensi moneter untuk meredam gejolak pasar eksternal sekaligus menjaga kestabilan ekonomi domestik. Bersamaan dengan kebijakan tersebut, Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa pada Mei 2026 menyusut sebesar 1,3 miliar dolar AS menjadi 144,9 miliar dolar AS akibat pembayaran utang luar negeri pemerintah dan penerbitan obligasi global.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kebijakan moneter terbaru ini merupakan langkah antisipatif dari otoritas keuangan nasional.

"(Faktor internal) BI menaikkan suku bunga acuan, BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,5 persen hari ini. Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah," kata Ibrahim Assuaibi.

Menurut Ibrahim, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia juga telah berkoordinasi sejak akhir pekan untuk merumuskan stimulus fiskal bagi masyarakat.

"Pemerintah saat ini terus memperkuat sinergi kebijakan ekonomi, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Koordinasi antara BI dan Kementerian Keuangan menjadi bagian dari upaya menjaga perekonomian nasional tetap berada pada jalur yang diharapkan. Koordinasi tersebut telah dilakukan sejak akhir pekan lalu melalui pembahasan bersama BI sebagai otoritas moneter dan Kementerian Keuangan sebagai otoritas fiskal," terang Ibrahim Assuaibi.

Dari sisi eksternal, sentimen positif bagi mata uang regional didorong oleh meredanya tensi militer di Timur Tengah. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menyatakan bahwa penguatan rupiah terbantu oleh penurunan harga komoditas energi global.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak dunia oleh meredanya geopolitik di Timteng dimana Iran dan Israel untuk sementara waktu menghentikan penyerangan," kata Lukman Leong melansir bali.antaranews.com.

Meskipun demikian, Lukman memberikan catatan bahwa pemulihan nilai tukar rupiah masih akan menghadapi tantangan dari dalam negeri.

"Namun, penguatan akan terbatas mengingat sentimen domestik yang masih negatif. Sentimen yang telah memburuk menjadi krisis kepercayaan," ungkap Lukman Leong.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author