Bandara Soekarno Hatta Geser KLIA Jadi Tersebuk Kedua di ASEAN

Share

Bandara Internasional Soekarno-Hatta berhasil merebut posisi kedua sebagai bandara tersibuk di Asia Tenggara. Pencapaian ini membuat Bandara Soekarno-Hatta menggeser posisi Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

Data tersebut dirilis oleh perusahaan analisis penerbangan asal Inggris, OAG, untuk periode Juli, sebagaimana dikutip dari Detik Travel. Peringkat pertama masih diduduki oleh Bandara Changi Singapura.

Sepanjang periode tersebut, Bandara Soekarno-Hatta mencatatkan kapasitas sebanyak 3,3 juta tempat duduk. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 3,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, Bandara Changi Singapura memimpin di posisi puncak dengan kapasitas mencapai 3,56 juta tempat duduk. Posisi KLIA harus turun ke peringkat ketiga setelah mencatatkan penurunan kapasitas sebesar 4,4 persen menjadi sekitar 3,15 juta tempat duduk.

Padahal, KLIA yang membentang di atas lahan 100 kilometer persegi di Sepang merupakan salah satu pusat penerbangan utama kawasan. Sepanjang semester pertama tahun ini, KLIA mengani 23,4 juta penumpang internasional atau naik 7,8 persen.

Secara keseluruhan, total pergerakan penumpang di KLIA tumbuh 5,4 persen secara tahunan hingga menyentuh 31,7 juta orang. Namun, penurunan kapasitas penerbangan domestik di Malaysia sebesar 508.700 kursi turut menekan kinerja operasionalnya.

Secara regional, OAG melaporkan total kapasitas pasar Asia Tenggara menyusut 1,2 persen menjadi 50,4 juta kursi dibanding Juli tahun lalu. Penurunan ini dipicu lonjakan harga bahan bakar akibat dinamika politik di Timur Tengah.

Kondisi tersebut membuat sejumlah maskapai di Asia Tenggara memangkas rute internasional. Meski demikian, posisi keempat bandara tersibuk masih diisi Bandara Suvarnabhumi Thailand dengan 3,14 juta kursi, diikuti Bandara Ninoy Aquino Filipina dengan 2,58 juta kursi.

Di tengah tekanan industri penerbangan regional, Indonesia tetap memegang predikat pasar penerbangan terbesar di Asia Tenggara. Total kapasitas mencapai 10,9 juta kursi, tumbuh tipis 0,3 persen secara tahunan.

Indonesia juga mendominasi pasar penerbangan domestik di kawasan dengan angka 8,7 juta kursi. Kapasitas domestik ini cenderung stabil dengan kenaikan tipis 0,1 persen atau setara tambahan 11.400 kursi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author