Australia Kembangkan RoBird untuk Atasi Hama Burung di Sektor Pertanian

Share

Sektor pertanian di Australia kini memanfaatkan inovasi teknologi modern untuk mengatasi masalah hama. Seperti dilansir dari Detikcom, negara tersebut mengembangkan teknologi robot burung pemangsa yang dikenal dengan nama RoBird guna menekan kerusakan tanaman akibat serangan hama burung liar.

Langkah inovatif ini dinilai menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan metode konvensional yang selama ini diterapkan oleh para petani. Penggunaan drone ini diproyeksikan mampu menjaga kelestarian ekosistem sekitar lahan pertanian.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, mengatakan teknologi ini berpotensi menjadi masa depan pengendalian hama burung, terutama untuk komoditas hortikultura bernilai tinggi seperti stroberi, anggur, dan apel.

Menurut penjelasan Ronny, pengendalian hama burung di Australia menghadapi tantangan besar karena banyak spesies burung liar yang statusnya dilindungi oleh hukum. Petani setempat biasanya mengandalkan jaring, alat pengusir suara, benda reflektif, hingga tiruan predator untuk menjaga lahan mereka.

Akan tetapi, teknik konvensional tersebut kerap memakan biaya besar. Efektivitas metode lama ini juga terus menurun seiring berjalannya waktu karena sifat burung liar yang mampu beradaptasi dengan cepat.

Sebagai jalan keluar, RoBird dirancang khusus untuk meniru bentuk serta pola terbang elang peregrine yang merupakan salah satu predator alami di alam liar.

"Hal yang paling menarik perhatian adalah desain biomimetik yang menakjubkan, termasuk ukuran, siluet, dan pola terbang yang sangat mirip dengan elang asli sehingga burung pengganggu merasa terancam," ujar Ronny, dikutip dari laman IPB University.

Secara teknis, RoBird dibuat menggunakan sayap berbahan busa poli fleksibel. Robot terbang ini mampu berpatroli di area persawahan atau perkebunan selama kurang lebih 15 menit dengan mengandalkan pasokan daya dari baterai isi ulang.

Bobot robot ini didesain sangat ringan dengan berat kurang dari satu kilogram. Konstruksi tersebut memastikan perangkat aman bagi satwa liar karena sistem kerjanya hanya berfokus untuk menakuti tanpa melukai hama.

Berdasarkan hasil uji coba pada sejumlah perkebunan stroberi di Australia, pengoperasian RoBird terbukti efektif. Teknologi ini mampu memangkas tingkat kerusakan buah akibat serangan hama burung hingga mencapai 89 persen.

"Drone ini sangat membantu dalam mengusir burung dengan cara yang ramah lingkungan, tanpa harus menggunakan tembakan gas atau mengganggu ekosistem seperti jaring yang bisa menjebak satwa lain," katanya.

Inovasi Berkelanjutan dan Efisiensi Ekonomi

Pemanfaatan RoBird di masa depan dinilai dapat diperluas untuk perlindungan komoditas hortikultura lain yang bernilai ekonomi tinggi. Sistem ini juga berpotensi diintegrasikan dengan teknologi modern seperti patroli otomatis, sensor internet of things (IoT), dan kamera kecerdasan buatan (AI).

Melalui penggabungan teknologi tersebut, robot ini dapat langsung mendeteksi keberadaan kawanan burung secara real-time. Hal ini akan membuat proses pengendalian hama di lapangan berjalan jauh lebih efisien.

Penerapan teknologi ini juga membawa dampak positif dari sisi finansial bagi para petani dalam jangka panjang melalui minimalisasi risiko gagal panen.

"Dari segi biaya, penggunaan teknologi ini akan sangat menguntungkan dalam jangka panjang. Meskipun investasi awalnya cukup besar, penghematan yang diperoleh dari berkurangnya kerusakan tanaman akan membuat teknologi ini sangat ekonomis dan layak untuk dipertimbangkan," tuturnya.

Capaian awal dalam proyek pengoperasian RoBird ini membuka peluang besar bagi Australia untuk menjadi salah satu pelopor dalam pemanfaatan drone biomimetik di dunia pertanian global.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author