Pemerintah AS Siapkan Obat Eksperimental MBP134 untuk Antisipasi Paparan Virus Ebola
Pejabat Amerika Serikat kini tengah bekerja sama dengan sebuah perusahaan biotek kecil untuk menyediakan pengobatan eksperimental. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi penggunaan obat pada pasien yang terpapar virus Ebola, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Perusahaan tertutup tersebut, Mapp Biopharmaceutical Inc., berkolaborasi dengan Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA). Kerja sama ini bertujuan menyediakan obat mereka agar berpotensi digunakan pada pasien yang membutuhkan.
Mapp Biopharmaceutical Inc. yang berbasis di San Diego berfokus pada pengembangan vaksin serta pengobatan untuk berbagai penyakit menular. Perusahaan tersebut sebelumnya memiliki obat Ebola eksperimental bernama ZMapp yang diberikan kepada beberapa pekerja bantuan asal Amerika selama wabah di Afrika pada 2014.
Melalui situs web resminya, pihak perusahaan menyatakan bahwa pengembangan ZMapp telah dihentikan. Kendati demikian, Mapp masih mencantumkan pengobatan tahap awal lainnya untuk virus tersebut dalam pipeline mereka.
Obat baru yang sedang disiapkan ini bernama MBP134, sebuah antibodi monoklonal. Jenis obat ini dirancang untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan mengidentifikasi antibodi dari orang yang terinfeksi, kemudian memproduksinya dalam jumlah besar.
Berdasarkan informasi dari situs resmi perusahaan, MBP134 dirancang untuk menargetkan semua virus Ebola yang diketahui menyebabkan penyakit pada manusia. Hal ini termasuk spesies virus yang saat ini sedang menyebar di kawasan Afrika.
Dalam uji klinis tahap awal, obat MBP134 ditemukan aman dan dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh. Namun demikian, tingkat efektivitas obat ini pada manusia masih belum terbukti secara klinis.
BARDA bertindak sebagai penyandang dana untuk pengembangan lanjutan dari obat tersebut. Hingga saat ini, pengobatan MBP134 belum mendapatkan persetujuan resmi, sehingga penggunaannya masih memerlukan otorisasi dari regulator dan otoritas kesehatan masyarakat.
Mapp menolak berkomentar mengenai kapasitas produksi serta jumlah persediaan mereka saat ini. Mereka menambahkan bahwa seluruh dosis yang ada sekarang merupakan milik pemerintah Amerika Serikat.
Otoritas kesehatan dunia saat ini tengah menghadapi jenis Ebola langka di Afrika Tengah yang belum memiliki pengobatan maupun vaksin yang disetujui. Wabah tersebut telah menewaskan sedikitnya 139 orang di Democratic Republic of Congo dan Uganda, menurut data terbaru dari World Health Organization, dengan ratusan kasus suspek.
Dibutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum vaksin siap untuk diuji coba langsung pada manusia. Amerika Serikat terus membahas potensi vaksin dan pengobatan ini, termasuk penggunaan antibodi monoklonal, bersama para mitra internasional.