Amerika Serikat Serang Iran dan Cabut Pengecualian Ekspor Minyak

Share

Amerika Serikat meluncurkan serangan udara baru terhadap Iran serta mencabut pengecualian penjualan minyak global setelah 7 Juli 2026, menyusul ketegangan baru di Selat Hormuz yang mengancam kesepakatan damai kedua negara. Hal ini dilansir dari Bloombergtechnoz.

Tindakan militer dan sanksi ekonomi tersebut dilakukan setelah terjadi rentetan serangan terhadap kapal-kapal komersial di jalur perairan internasional. Pihak berwenang Amerika Serikat menilai operasi ini diperlukan untuk memberikan efek jera.

"serangan besar" kata Komando Pusat AS.

Militer Amerika Serikat menegaskan bahwa operasi tersebut memiliki target yang jelas demi merespons gangguan keamanan maritim.

"memberikan konsekuensi yang berat atas tindakan menargetkan dan menyerang kapal-kapal komersial yang diawaki warga sipil tak bersalah di jalur perairan internasional," ujar Komando Pusat AS.

Di sisi lain, pemerintah Iran langsung bereaksi keras terhadap gempuran udara serta pembekuan izin dagang minyak tersebut. Teheran menilai langkah Washington telah mencederai kesepakatan bersama yang baru berjalan.

"tindakan tegas" kata Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran.

Situasi geopolitik yang kembali memanas ini memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Pengamat menilai stabilitas gencatan senjata yang sempat disepakati kini berada dalam posisi yang sangat rapuh.

"merupakan sinyal kepada pasar yang terlalu cepat merasa tenang bahwa gencatan senjata mungkin tidak sekuat dan setahan yang diperkirakan. Pasar kini harus kembali memperhitungkan premi risiko." kata Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group.

Selain ketegangan udara, kondisi di jalur laut juga dipenuhi oleh taktik militer baru. Iran dilaporkan mulai memasang ranjau laut untuk mengarahkan rute pelayaran internasional mendekati wilayah teritorial mereka.

"memaksa pelayaran memasuki sisi Iran di Selat Hormuz," kata Laksamana Daryl Caudle, Kepala Operasi Angkatan Laut AS.

Langkah penempatan ranjau tersebut dinilai sebagai upaya unjuk kekuatan politik dan militer atas jalur strategis dunia.

"Iran bertekad menunjukkan bahwa mereka mengendalikan Selat Hormuz dan bahwa satu-satunya cara melintas dengan aman adalah melalui jalur utara," kata Claire McCleskey, Pendiri Clarity Compliance Consulting.

Mantan pejabat pemerintahan juga memberikan pandangan kritis terkait kebuntuan diplomasi ini. Serangan udara terbaru dinilai mencerminkan kejengkelan yang mendalam dari pihak Washington.

"Ini merupakan ekspresi frustrasi pemerintahan saat ini," kata David Schenker, Peneliti di Washington Institute for Near East Policy.

Schenker menambahkan bahwa ekspektasi terhadap kepatuhan Iran terhadap kompromi diplomatik sebelumnya tidak berjalan sesuai rencana.

"Harapan bahwa Iran akan mematuhi kesepakatan ternyata terlalu optimistis," kata David Schenker, Peneliti di Washington Institute for Near East Policy.

Konflik yang kembali terbuka ini diprediksi akan terus berlanjut tanpa penyelesaian instan dalam waktu dekat.

"Ini adalah perang yang terus berlarut-larut." kata David Schenker, Peneliti di Washington Institute for Near East Policy.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author