AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz

Share

Amerika Serikat dan Iran terlibat aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz pada Rabu, 8 Juli 2026, yang memicu lonjakan harga minyak mentah dunia serta menghentikan hampir seluruh lalu lintas kapal tanker di jalur pasokan energi vital tersebut.

Eskalasi militer ini bermula ketika militer AS meluncurkan serangan udara ke sejumlah fasilitas pertahanan udara dan pelabuhan di Iran, yang kemudian dibalas oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan menggempur 85 fasilitas militer Amerika di Kuwait dan Bahrain.

Dampak dari konfrontasi bersenjata ini langsung mengguncang pasar finansial global dengan jatuhnya indeks saham utama seperti Dow Jones sebesar 488 poin, sementara harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 5 persen hingga mencapai 78 dolar AS per barel.

Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya ditandatangani pada Juni lalu kini telah berakhir akibat pelanggaran yang dilakukan oleh pihak Teheran.

"I think it's over. I don't want to deal with them anymore. They're scum," ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump juga mengancam akan melancarkan serangan lanjutan yang lebih besar ke infrastruktur sipil penting di Iran jika situasi terus memanas.

"It may be a big attack, and it'll knock out a lot of stuff," tegas Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pemerintah AS juga mencabut keringanan sanksi minyak Iran, sementara Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan sekitar 6.000 pelaut kini terjebak di dalam Teluk Persia karena jalur pelayaran yang tidak aman.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author