AS Bela Selebrasi Spanduk Malvinas Timnas Argentina Kontra Inggris
Pemerintah Amerika Serikat membela aksi tim nasional sepak bola Argentina yang membentangkan spanduk kontroversial terkait Kepulauan Falkland atau Islas Malvinas pascapertandingan semifinal Piala Dunia di Atlanta Stadium, Amerika Serikat, pada Rabu (15/7/2026) waktu setempat, dilansir dari Detikcom. Aksi pembentangan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" tersebut dinilai berpotensi melanggar aturan FIFA mengenai pernyataan politik dalam sepak bola, sehingga Argentina terancam menghadapi sanksi disiplin resmi. Menanggapi potensi pelanggaran tersebut, kepala satuan tugas FIFA di Gedung Putih memberikan pernyataan resmi mengenai kebebasan berpendapat para pemain selama berada di wilayah hukum Amerika Serikat.
"menyampaikan pernyataan semacam itu" kata Andrew Giuliani, Kepala Satuan Tugas FIFA di Gedung Putih.
Dalam konferensi pers pada Jumat (17/7/2026), Giuliani menegaskan bahwa Konstitusi Amerika Serikat memberikan jaminan penuh terhadap hak berbicara di muka umum kepada siapa saja. "Kami menjunjung tinggi hak-hak Amandemen Pertama kami di sini, di Amerika Serikat," tegas Andrew Giuliani.
Pihak Gedung Putih kembali menekankan bahwa timnas Argentina memiliki kebebasan penuh dalam mengekspresikan sikap politik mereka selama turnamen berlangsung di negara tersebut. "Andai terkait kemampuan dan kesempatan untuk menyampaikan pernyataan, (Argentina) memiliki keleluasaan untuk melakukannya di Amerika Serikat," ucap Andrew Giuliani.
Sikap akomodatif dari perwakilan Amerika Serikat ini berisiko memperuncing ketegangan diplomatik, mengingat pemerintah Inggris menuntut federasi sepak bola internasional untuk segera mengambil tindakan tegas. Kantor Perdana Menteri Inggris di Downing Street langsung mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan kedaulatan penuh mereka atas wilayah kepulauan di Samudra Atlantik tersebut. "Piala Dunia mungkin bukan milik kita, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kita. Komitmen kita terhadap Falkland tidak akan pernah goyah," tegas juru bicara resmi PM Inggris.
Konflik kedaulatan ini berakar dari perang tahun 1982 yang menewaskan 255 tentara Inggris dan 649 tentara Argentina, sebelum akhirnya penduduk lokal memilih tetap menjadi wilayah Inggris lewat referendum 2013 dengan hasil 1.513 mendukung dan hanya tiga menolak.
Pemerintah otoritas lokal Kepulauan Falkland juga mengecam keras tindakan para pemain Argentina dan meminta eskalasi politik dijauhkan dari turnamen olahraga. "tidak menginginkan politik dibawa ke dalam olahraga" tegas pemerintah Kepulauan Falkland. Otoritas wilayah seberang laut Inggris tersebut juga berharap agar federasi internasional bertindak objektif sesuai regulasi yang berlaku demi menjaga netralitas kompetisi.
"Kami juga tidak ingin kepulauan ini dan rakyatnya dijadikan alat politik dalam setiap percakapan tentang Inggris dan Argentina," tegas pemerintah Kepulauan Falkland.