Arsenal Gagal Juara Liga Champions Setelah Kalah Adu Penalti dari PSG

Share

Paris Saint-Germain (PSG) berhasil menundukkan Arsenal lewat adu penalti dengan skor 4-3 setelah bermain imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu pada pertandingan final Liga Champions di Budapest.

Kekalahan klub asal London Utara tersebut diwarnai kegagalan eksekusi penalti dari Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes dalam sesi tos-tosan. Selain itu, kubu Arsenal sempat melayangkan protes keras setelah banding penalti mereka akibat insiden antara Noni Madueke dan Nuno Mendes di babak perpanjangan waktu diabaikan oleh wasit Daniel Siebert serta VAR.

Insiden perebutan bola yang tidak membuahkan penalti bagi Arsenal tersebut memicu perdebatan sengit di kalangan pengamat sepak bola TNT Sports.

"Mendes, what saves him, he just gets his arm across, which remains goal side," kata Martin Keown, legenda Arsenal.

Mantan bek tersebut menilai bahwa posisi lengan Mendes yang berada di sisi gawang menyelamatkannya dari hukuman. Ia menambahkan bahwa wasit berada di posisi yang tepat dan VAR tidak melihat cukup bukti untuk menganulir keputusan di lapangan.

"If he's completely the other side there, that's a penalty. The referee's right on the spot, I don't think VAR will see enough in that to overrule the referee's decision." kata Martin Keown.

Penilaian berbeda disampaikan oleh komentator lain yang menganggap tindakan pemain bertahan PSG tersebut seharusnya diganjar hukuman penalti.

"I think I'm giving that, you know," ujar Ally McCoist, komentator TNT Sports.

Ia melihat adanya pelanggaran meski menyadari pergerakan tangan dari penyerang Arsenal.

"The only thing is, you look at Madueke's left arm, comes across as well." kata Ally McCoist.

Mantan pemain legendaris Liverpool juga turut menyuarakan pandangannya mengenai benturan fisik di area terlarang tersebut.

"Do you know what? I think it's very clumsy from Mendes. I also think there's a bit of contact, I think Arsenal can be hard done by, in my opinion." kata Steven Gerrard, legenda Liverpool.

Mantan gelandang Arsenal menyatakan bahwa keputusan pemberian penalti tidak akan memicu protes besar karena besarnya indikasi pelanggaran di lapangan.

"I think Ally [McCoist] described it perfectly, I mean, I've seen them given, and if it was given, I don't think we'd say 'Ah, that's definitely not a penalty’." kata Jack Wilshere, mantan bintang Arsenal.

Ia menambahkan bahwa kemarahan para pemain di lapangan, termasuk Declan Rice yang mendatangi wasit, menunjukkan adanya kontak fisik yang nyata.

"You can see, the players on the pitch, they know, and Dec [Rice] was fuming, and he went to the ref, so, I can see it, I've seen them given." kata Jack Wilshere.

Berdasarkan data statistik dari UEFA dan Opta, skuad asuhan Mikel Arteta bermain sangat defensif dengan hanya mencatat penguasaan bola antara 24,7 persen hingga 36 persen. Arsenal unggul lebih dulu lewat gol Kai Havertz pada menit keenam, namun keunggulan 59 menit itu sirna setelah Cristhian Mosquera melanggar Khvicha Kvaratskhelia yang berujung gol penalti penyama kedudukan bagi PSG.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author