Arsenal Gagal Juara Liga Champions Setelah Kalah Adu Penalti
Kekalahan lewat adu penalti dengan skor 3-4 dari Paris Saint-Germain membuat Arsenal gagal meraih trofi juara dalam partai final Liga Champions 2025-2026 di Puskas Arena, Budapest, Hongaria, pada Sabtu (30/5/2026).
Kegagalan ini terasa tragis karena skuad asuhan Mikel Arteta sebenarnya tidak pernah merasakan kekalahan dalam waktu normal 90 menit sepanjang turnamen. Pertandingan puncak tersebut berakhir dengan skor imbang 1-1 hingga waktu normal dan babak perpanjangan waktu selesai.
Klub London Utara tersebut unggul lebih awal lewat gol cepat Kai Havertz pada menit keenam melalui tendangan kaki kiri dari sudut sempit. Namun, Paris Saint-Germain berhasil menyamakan kedudukan melalui penalti Ousmane Dembele pada menit ke-65 setelah Khvicha Kvaratskhelia dilanggar di kotak penalti.
Sebelum partai puncak ini, Arsenal mencatatkan performa luar biasa dengan menyapu bersih delapan kemenangan di League Phase. Pada fase gugur, klub berjuluk The Gunners tersebut menyingkirkan Bayer Leverkusen dengan agregat 3-1, Sporting CP dengan skor 1-0, dan Atletico Madrid dengan keunggulan 2-1.
Secara keseluruhan dari 14 pertandingan yang dijalani di kompetisi antarklub Eropa musim ini, Arsenal mengemas 11 kemenangan dan tiga hasil imbang dalam waktu normal. Kepastian gelar juara Paris Saint-Germain ditentukan setelah dua eksekutor penalti Arsenal, Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes, gagal menyarangkan bola, sementara dari kubu lawan hanya Nuno Mendes yang gagal.
"Sangat sulit ketika Anda begitu konsisten dalam kompetisi hingga final, dan pada akhirnya Anda kehilangan trofi karena tendangan penalti. Itu sulit," ujar pelatih Arsenal, Mikel Arteta dilansir dari TNT Sports.
Kegagalan ini menambah panjang catatan hitam Arsenal yang juga pernah kalah di final Liga Champions edisi 2006 silam dari Barcelona di Paris. Pelatih asal Spanyol tersebut menegaskan bahwa kekecewaan ini harus menjadi motivasi bagi skuadnya untuk bangkit pada musim depan.
"Sakit. Ketika Anda begitu dekat dalam sebuah kompetisi, beberapa tendangan penalti di kompetisi antarklub terbesar di dunia, maka itulah yang seharusnya kami rasakan. Kami harus mengubah rasa sakit ini menjadi bahan bakar," tutur Mikel Arteta.
Meskipun terpukul dengan hasil akhir di babak adu penalti, Arteta tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap perjuangan anak asuhnya sepanjang musim ini. Arsenal kini tercatat sudah dua kali menembus babak final turnamen tertinggi Eropa tersebut tanpa sekalipun berhasil mengangkat trofi juara.
"Saya sangat proud pada mereka. Mereka memberi kami begitu banyak kegembiraan. Merupakan suatu kehormatan untuk mengelola kelompok pemain ini, tim ini," ucap Arteta.
Kekalahan ini membuat Arsenal harus mengakhiri musim kompetisi Eropa dengan status tidak terkalahkan dalam waktu normal, namun tetap tanpa trofi di tangan.
"Jadi kami perlu mengakui musim yang telah kami lalui. Tetapi saat ini, tidak ada yang akan menghilangkan rasa sakit ini," tutur sang pelatih asal Spanyol itu menjelaskan kekecewaan timnya.