Argentina Tekuk Mesir 3-2 pada Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Share

Tim nasional Argentina sukses melangkah ke babak perempat final Piala Dunia 2026 setelah membalikkan keadaan secara dramatis untuk menumbangkan Mesir dengan skor 3-2 di Atlanta pada Selasa sore waktu setempat.

Skuat asuhan Lionel Scaloni sempat tertinggal dua gol terlebih dahulu melalui sundulan Yasser Ibrahim pada menit ke-15 dan gol Mostafa Zico di babak kedua sebelum bangkit dalam kurun waktu sebelas menit terakhir.

Berdasarkan data statistik yang dilansir dari AS, Argentina tampil sangat mendominasi dengan penguasaan bola mencapai 63,6 persen berbanding 36,4 persen milik Mesir. Skuat Albiceleste juga melepaskan 19 tembakan total serta mencatatkan angka harapan gol (xG) sebesar 2,80 yang jauh mengungguli Mesir dengan 5 tembakan dan 0,98 xG.

Statistik Pertandingan Argentina vs Mesir
Metrik Statistik Argentina Mesir
Penguasaan Bola 63,6% 36,4%
Goles Diharapkan (xG) 2,80 0,98
Total Tembakan 19 5
Operan Sukses 602 349

Pertandingan berjalan penuh tekanan bagi Argentina setelah eksekusi penalti Lionel Messi pada menit ke-21 berhasil digagalkan oleh kiper Mesir, Mostafa Shobeir, yang tampil gemilang sepanjang laga. Mesir kemudian memperbesar keunggulan melalui serangan balik cepat yang diselesaikan oleh Ziko pada menit ke-67 setelah memanfaatkan umpan matang Hassan.

Media Amerika Serikat, The New York Times melalui jurnalis James Horncastle, menyoroti bagaimana ketegangan laga ini menguras emosi para pendukung Argentina, bahkan mengaitkannya dengan tingginya jumlah psikolog di Buenos Aires.

“Cuando ves jugar a Argentina, entiendes por qué. Después de cada partido, necesitas hablar con alguien. Tienes que compartir lo que has vivido. ‘¿Me estoy volviendo loco? ¿Es esto normal? ¿Cómo lo afronto?’.

En un momento estás por los suelos, abatido y deprimido; al siguiente, estás en el cielo, eufórico. La adrenalina. La dopamina.

Es un psicodélico natural. No es de extrañar que los argentinos sigan a su selección a todas prema. Esto es más que patriotismo.

Es una adicción. Todo el mundo te dice que no es sano. Sabes que deberías dejarlo.

Pero nada te ha hecho sentir así antes y ansías volver a sentir esa sensación una y otra y otra vez" tulis Horncastle dalam ulasannya di The Athletic.

Analisis tersebut juga memaparkan keputusasaan Argentina yang sempat terekam saat Messi tampak lesu setelah Lautaro Martinez melewatkan peluang emas di depan gawang, ditambah kondisi fisik tim yang kelelahan setelah bermain 120 menit melawan Cabo Verde pada laga sebelumnya.

Kebangkitan Argentina dimulai pada menit ke-79 ketika Cristian Romero mencetak gol lewat sundulan meneruskan umpan silang Messi. Tiga menit berselang, sang kapten menyamakan kedudukan menjadi 2-2 melalui sepakan kaki kiri keras yang sempat mengenai kiper dan mistar gawang.

Sebelum gol kemenangan tercipta, Leandro Paredes melakukan tekel krusial dalam situasi satu lawan satu untuk menggagalkan peluang emas Mesir. Kemenangan Argentina akhirnya dikunci oleh gol sundulan Enzo Fernandez pada menit ke-92 memanfaatkan operan Lautaro Martinez.

Pelatih Argentina mengungkapkan alasan personalnya tetap bertahan di dunia sepak bola setelah melihat akhir pertandingan yang luar biasa tersebut.

“Me hice entrenador para tener estas emociones, las emociones que te da un partido de fútbol, que nos da a los argentinos, es inigualable. Volver a recrear esa emoción… Soy entrenador por esto” kata Lionel Scaloni dalam konferensi pers pascapertandingan.

Hasil ini membawa Argentina menyusul tim-tim lain yang sudah memastikan diri lolos ke babak delapan besar di tengah turnamen yang penuh dengan kejutan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author