Arab Saudi Andalkan Kecerdasan Buatan Kelola Jutaan Jemaah Haji

Share

Ibadah haji merupakan salah satu mobilisasi manusia terbesar di dunia yang menyimpan kompleksitas tinggi. Di balik pergerakan jutaan manusia di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi, terdapat sistem teknologi raksasa yang bekerja tanpa henti.

Pergerakan lebih dari 1,6 juta orang secara bersamaan menuju Mina, Arafah, dan Muzdalifah menyimpan risiko besar jika terjadi kendala operasional. Keterlambatan penanganan medis atau penumpukan massa di satu titik dapat memicu situasi darurat.

Seperti dilansir dari Detik iNET, pemerintah Arab Saudi kini mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), dashboard operasional real-time, drone, telemedicine, hingga sistem crowd monitoring.

Saudi Data and Artificial Intelligence Authority (SDAIA) mengoperasikan Smart Makkah Operations Center sebagai pusat kendali teknologi utama. Pusat kendali ini memanfaatkan sistem AI bernama Baseer untuk memantau kepadatan dan pergerakan jemaah secara langsung.

Teknologi ini membantu petugas mendeteksi titik rawan kemacetan atau penumpukan massa secara cepat sebelum berkembang menjadi insiden serius. Otoritas setempat bahkan telah melakukan simulasi operasional selama 30 jam yang melibatkan 40 lembaga pemerintah dan 1,4 juta jemaah untuk menguji keandalan sistem.

Digitalisasi pelayanan juga sudah dimulai sebelum jemaah tiba di Tanah Suci melalui platform Nusuk. Aplikasi ini memfasilitasi pengurusan izin, jadwal ibadah, hingga navigasi lokasi untuk memecah konsentrasi massa.

Sistem Medis Darurat Berbasis Digital

Sektor kesehatan menjadi fokus krusial lainnya karena tantangan cuaca panas ekstrem yang berisiko tinggi bagi jemaah lanjut usia. NUPCO, perusahaan milik Public Investment Fund yang mengelola rantai pasok kesehatan, menjadi tulang punggung operasional medis.

"Selama Haji, interoperabilitas sangat penting karena pengiriman layanan kesehatan bergantung pada banyak sistem yang bekerja bersama dengan cepat," ujar Chief Operating Officer NUPCO, Fahad AlButhi.

Pemerintah Saudi menempatkan gudang medis mobile di dekat Mina dan Arafah yang menyediakan sekitar 1.930 jenis obat dan alat kesehatan. Dashboard live digunakan untuk memantau stok, sementara drone dikerahkan jika kendaraan respons cepat terhambat kemacetan jalan raya.

Layanan kesehatan digital diperluas melalui Seha Virtual Hospital yang menghubungkan fasilitas medis darurat dengan dokter spesialis lewat AI. Jemaah juga dapat mengakses konsultasi dan resep digital melalui aplikasi Sehhaty.

Langkah preventif ini diperketat setelah gelombang panas pada musim haji 2024 yang menyebabkan lebih dari 1.300 orang wafat. Sejak peristiwa tersebut, monitoring real-time dan kesiapan fasilitas medis menjadi prioritas utama.

Kolaborasi Teknologi dan Manusia

Kendati adopsi teknologi sangat masif, keberhasilan operasional di lapangan tetap bertumpu pada koordinasi personel manusia.

"Otomatisasi tidak akan menggantikan elemen manusia," kata Fahad AlButhi.

Fahad AlButhi menambahkan bahwa teknologi berfungsi memberikan visibilitas dan data cepat, namun keputusan krusial tetap berada di tangan petugas. Keberadaan relawan dan petugas lapangan sangat vital, terutama untuk membantu jemaah lansia yang belum akrab dengan sistem digital.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author