Analis Pertahankan Pandangan Positif Emiten Batu Bara Ekspor
05 June 2026 13:20
Bloomberg Technoz, Jakarta – Sebagian analis mempertahankan pandangan positif untuk emiten tambang batu bara dengan eksposur pasar ekspor kendati importir di China belakangan menunda pembelian untuk kontrak Juni 2026.
Mengutip terminal Bloomberg per Jumat (5/6/2026), 13 analis merekomendasikan beli untuk saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), 12 di antaranya holds dan 2 di antaranya jual.
Bloomberg menghimpun 27 analis terkait dengan saham ITMG dengan target harga 12 bulan mendatang mencapai Rp28.013 per saham.
Target harga itu mencerminkan potensi kenaikan sekitar 28,5% dari posisi perdagangan terakhir di level Rp21.800 per saham.
Malahan, konsensus 17 analis yang dihimpun Bloomberg mayoritas menyematkan pandagan positif untuk saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Sebanyak 16 analis menyarankan beli dan 1 analis menyarankan hold.
Baca Juga
Lewat konsensus itu, target harga saham AADI yang terbentuk ke level Rp14.304 per saham untuk 12 bulan mendatang dengan potensi kenaikan 90,7% dari posisi perdagangan hari ini di level Rp7.500 per saham.
Selain itu, 6 analis yang dihimpun Bloomberg kompak memberi rating buy untuk PT Indika Energy Tbk (INDY) dengan target harga Rp4.483 per saham.
Target harga 6 analis itu mengindikasikan potensi kenaikan 128,7% dari posisi harga saat ini di kisaran Rp1.960 per saham.
Sementara itu, konsensus 3 analis untuk saham BUMI menyematkan rating buy dengan harga yang tercipta di kisaran Rp290 per saham.
Target harga itu mengindikasikan potensi kenaikan 105,7% dari posisi harga saat ini di kisaran Rp141 per saham.
Posisi sebagian sekuritas itu belakangan berhadapan dengan risiko macetnya ekspor batu bara ke China, salah satu importir batu bara terbesar Indonesia.
Mengutip Bloomberg News, Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China (CCTD) mengatakan bahwa sejumlah pembeli China telah menunda impor Juni menyusul rencana Indonesia untuk memusatkan ekspor beberapa komoditasnya, termasuk batu bara.
Demikian disampaikan CCTD dalam konferensi pers pada Rabu (3/6/2026).
Peraturan baru Indonesia, yang berlaku mulai 1 Juni, telah memperlambat proses transaksi, mendorong kenaikan harga, dan memperketat pasokan, menurut Ma Yanxu, seorang analis CCTD.
CATATAN: Indonesia juga telah memangkas kuota produksi batu bara tahun 2026 menjadi sekitar 600 juta ton dan menaikkan kewajiban pasar domestik, yang mewajibkan para penambang untuk memprioritaskan pasokan ke pembangkit listrik lokal.
Pandangan pasar terbelah mengenai keberlanjutan lonjakan harga domestik yang dipicu oleh kecelakaan fatal di Shanxi.
Pembatasan yang terutama menargetkan tambang batu bara kokas swasta dapat menunda pemulihan, yang berpotensi memperpanjangnya hingga 3–6 bulan.
Perusahaan tambang batu bara termal telah menawarkan diskon minggu ini, karena dampak kecelakaan tersebut terhadap batu bara termal dianggap kurang signifikan dibandingkan terhadap batu bara kokas.
Persediaan batubara untuk penggunaan energi di wilayah pesisir meningkat +87% y/y pada minggu yang berakhir 1 Juni, sementara konsumsi harian meningkat 35% y/y.