Aktris Ha Young Minta Maaf Usai Kontroversi Kakek Buyut Pro-Jepang Mencuat

Share

Aktris asal Korea Selatan, Ha Young, resmi menyampaikan permohonan maaf terbuka setelah sejarah mengenai kakek buyutnya memicu gelombang kritik publik. Dikutip dari Detikcom, kontroversi ini bermula saat pemeran drakor Our Sticky Love itu menceritakan silsilah keluarganya dalam program TV KBS2 Problem Child in House.

Di acara tersebut, ia menuturkan bahwa sang kakek buyut, Ahn Sang Ho, pernah menimba ilmu kedokteran di Jepang sebelum akhirnya mendirikan klinik di Seoul dan sempat merawat Kaisar Gojong. Kaisar Gojong sendiri memimpin Korea selama 43 tahun sejak 1864 hingga dipaksa turun takhta pada 1907.

Pernyataan tersebut mendorong publik untuk menggali latar belakang Ahn Sang Ho lebih dalam, mengingat ia hidup di era kolonial. Dari penelusuran sejarah, terungkap bahwa Ahn Sang Ho terdaftar sebagai pengurus di Daejeong Chinmokhoe, sebuah organisasi yang dikenal pro-Jepang.

Agensi yang menaungi sang aktris, BISTUS Entertainment, sempat menuai kritik karena memberikan respons yang berubah-ubah. Setelah awalnya membenarkan pertalian darah Ha Young namun membantah isu pro-Jepang, pihak manajemen akhirnya merilis klarifikasi terbaru usai publik menyodorkan bukti catatan sejarah yang valid.

"Setelah melakukan verifikasi lebih lanjut, kami memastikan adanya catatan yang menunjukkan bahwa dokter Ahn Sang Ho tercatat sebagai dewan anggota Daejeong Chinmokhoe pada tahun 1916," kata manajemen dalam pernyataan resmi mereka.

"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah menimbulkan kebingungan akibat tanggapan yang terburu-buru, yang menyatakan bahwa laporan tersebut tidak berdasar, tanpa verifikasi yang memadai," lanjut manajemen.

Surat Permintaan Maaf Ditulis Tangan

Gelombang kritik kian deras lantaran isu ini bergulir mendekati momen Hari Kemerdekaan Korea Selatan. Menanggapi situasi yang memanas di tengah persiapan comeback-nya di platform Netflix, Ha Young merilis surat pernyataan bertulis tangan.

"Ini Ha Young.

Pertama-tama, saya menundukkan kepala sebagai tanda permintaan maaf atas kekecewaan dan rasa sakit yang saya timbulkan akibat masalah yang berkaitan dengan kakek buyut saya. Baru-baru ini, setelah mengetahui tindakan masa lalu kakek buyut saya, Ahn Sang Ho, saya merenungkan sejarah keluarga saya dengan hati yang berat.

Selama ini, saya hanya mengetahui kehidupan kakek buyut saya secara sepenggal-sepenggal, berdasarkan cerita yang diturunkan dalam keluarga. Sungguh memalukan, saya sempat membicarakannya di berbagai kesempatan seolah-olah beliau adalah sosok kebanggaan keluarga, padahal saya sendiri tidak mengetahui fakta yang sebenarnya.

Melalui kejadian ini, saya menelusuri sendiri dokumen-dokumen terkait dan mengetahui tentang aktivitas pro-Jepang yang dilakukan kakek buyut saya. Saya sangat menyesal karena telah berbicara mengenai sejarah keluarga dengan begitu enteng tanpa memahami secara benar sejarah kelam negara kita di masa penjajahan Jepang.

Selain itu, saat kontroversi ini pertama kali muncul, saya sendiri tidak mengetahui fakta yang sebenarnya, sehingga agensi mengeluarkan pernyataan yang menyebut laporan tersebut 'tidak berdasar'. Saya mengakui bahwa kelalaian sayalah yang menyebabkan pernyataan keliru tersebut disampaikan tanpa verifikasi yang memadai. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kebingungan dan luka yang ditimbulkan akibat hal ini.

Saya juga memohon maaf berulang kali atas keterlambatan saya dalam menyampaikan sikap saya; saya merasa sangat terguncang dan kesulitan menentukan cara terbaik untuk menyampaikan permintaan maaf yang tulus mengingat betapa seriusnya situasi ini.

Saya menyadari bahwa ketidaktahuan saya mengenai hal-hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan atau memandang remeh sejarah itu. Saya menerima kesalahan tersebut dengan hati yang berat dan, sebagai keturunannya, saya menyampaikan permintaan maaf yang tulus. Saya merasa semakin menyesal karena telah menimbulkan masalah akibat kekurangan saya, terlebih lagi menjelang Hari Kemerdekaan.

Saya akan menyimpan kejadian ini dalam ingatan saya. Saya akan mempelajari sejarah keluarga dan era tersebut dengan saksama, serta bersikap lebih berhati-hati terhadap sejarah di masa mendatang. Lebih jauh lagi, saya akan mendalami sejarah kita dan berupaya semaksimal mungkin untuk menunjukkan rasa hormat kepada para pejuang kemerdekaan serta semua orang yang telah mengabdikan diri demi pembebasan dan kesejahteraan negara kita. Saya akan membuktikan hal ini tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata.

Sekali lagi, saya memohon maaf yang tulus kepada semua pihak yang merasa khawatir akibat kejadian ini."

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author