Aktivitas Perdagangan BEI Meningkat di Tengah Koreksi IHSG Juni 2026
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan peningkatan aktivitas perdagangan saham di pasar domestik sepanjang periode 2 hingga 5 Juni 2026 meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam.
Berdasarkan siaran pers resmi BEI pada Jumat (5/6/2026), IHSG ditutup merosot 8,69 persen atau kehilangan 532,616 poin ke level 5.594,765, yang merupakan titik terendah sejak November 2020.
Koreksi ini memicu penurunan kapitalisasi pasar bursa sebesar 8,59 persen menjadi Rp9.807 triliun serta penurunan rata-rata nilai transaksi harian sebesar 5,71 persen menjadi Rp26,97 triliun.
Namun, rata-rata frekuensi transaksi harian bursa justru tumbuh 14,11 persen menjadi 2,41 juta kali, dan rata-rata volume perdagangan harian naik 8,66 persen hingga mencapai 33,63 miliar saham.
Tekanan di pasar saham diperparah oleh aksi jual bersih investor asing senilai Rp3,73 triliun pada akhir pekan, sehingga akumulasi jual bersih sepanjang tahun berjalan menembus Rp61,36 triliun.
Koreksi dalam ini turut menyeret harga saham bank berkapitalisasi besar ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun ke Rp5.075 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ke posisi Rp2.740 per saham.
Di pasar valuta asing, mata uang rupiah juga mengalami tekanan bearish selama 10 pekan terakhir hingga menembus level Rp18.000 dan berakhir di posisi Rp18.015 per dolar AS akibat penguatan dolar global.
Selain faktor nilai tukar, data Badan Pusat Statistik mencatat kenaikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2026 sebesar 0,28 persen secara bulanan atau 3,08 persen secara tahunan, sementara surplus neraca perdagangan April menyusut tajam menjadi US$90 juta.
Menanggapi situasi pasar, analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai kondisi saat ini merupakan salah satu periode yang cukup menantang bagi pelaku pasar domestik.
"Pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih berpotensi fluktuatif dengan kecenderungan berada dalam fase konsolidasi," ungkap Hendra Wardana.
Hendra menjelaskan bahwa derasnya aksi jual investor asing menunjukkan proses pencarian keseimbangan pasar belum sepenuhnya selesai, meski peluang pembalikan arah secara teknis tetap terbuka.
"Potensi rebound tetap ada apabila muncul sentimen positif seperti stabilisasi rupiah, meredanya tekanan global, atau kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan investor," jelas Hendra Wardana.
Ia menambahkan, era suku bunga tinggi yang berlangsung lebih lama dari perkiraan menjadi salah satu faktor utama yang mengurangi daya tarik instrumen saham dibandingkan obligasi.
"Suku bunga tinggi membuat instrumen seperti obligasi dan pendapatan tetap menjadi lebih menarik, sehingga daya tarik saham berkurang," katanya.
Hendra memproyeksikan arus dana asing ke depan akan sangat bergantung pada kebijakan suku bunga The Fed serta persepsi global terhadap stabilitas makroekonomi nasional.
"Arus dana asing akan sangat ditentukan oleh kebijakan suku bunga The Fed dan persepsi terhadap stabilitas ekonomi Indonesia," imbuhnya.
Terkait fenomena penarikan dana global secara masif dari pasar keuangan dalam negeri, Hendra mengingatkan risiko penurunan kepercayaan pasar yang berimbas luas.
"Ketika kepercayaan investor menurun, dampaknya tidak hanya pada IHSG, tetapi juga pada rupiah dan arus modal keluar," jelas Hendra Wardana.
Ia menegaskan bahwa langkah pemulihan pasar modal harus bertumpu pada kebijakan yang stabil serta penguatan fundamental ekonomi secara nyata.
"Bagi investor jangka panjang, fase koreksi yang dalam justru bisa dimanfaatkan untuk akumulasi saham berkualitas dengan valuasi yang lebih menarik," tegas Hendra Wardana.
Sementara itu, Analis KISI Sekuritas, Muhammad Wafi berpendapat penurunan harga pada saham-saham unggulan perbankan tidak mencerminkan penurunan kinerja keuangan emiten terkait.
"BBCA dan BBRI dijual asing bukan karena fundamental memburuk. Dua-duanya adalah saham paling likuid di IHSG sehingga jadi instrumen exit pertama kalau asing cash out dari Indonesia," kata Muhammad Wafi.
Wafi menambahkan bahwa laba bersih BBCA per April 2026 tetap solid sebesar Rp20,81 triliun dan BBRI mencapai Rp15,89 triliun, sehingga koreksi harga murni disebabkan oleh faktor eksternal.
"Kondisi BBCA dan BBRI saat ini bukan value trap, tapi forced selling yang bikin diskon ekstrem pada bisnis yang fundamentalnya tidak berubah," kata Muhammad Wafi.
Di tengah tekanan pasar saham dan obligasi, Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto memberikan pandangan mengenai alternatif penempatan portofolio investasi.
"Sektor komoditas saat ini masih bisa menjadi pilihan, sementara untuk reksa dana, Panin AM memiliki reksa dana dollar baik di deposito dolar maupun obligasi dolar dan pasar global di AS," sebut Rudiyanto dalam dialog di CNBC Indonesia.
Untuk menguatkan likuiditas pasar surat utang, BEI bersama Kementerian Keuangan mencatat nilai transaksi Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) tumbuh 114,3 persen menjadi Rp602,9 triliun hingga akhir Mei 2026.
Secara komparatif, penurunan IHSG sebesar 35,30 persen secara tahun berjalan menempatkan pasar modal Indonesia di peringkat ke-35 dari 36 bursa saham dunia per 5 Juni 2026.
Data BEI menunjukkan performa domestik tertinggal dari bursa regional ASEAN lainnya seperti Thailand yang naik 25,64 persen, Singapura 8,69 persen, Vietnam 2,64 persen, dan Malaysia 0,79 persen.
Pada perdagangan pekan depan, IHSG diperkirakan bergerak pada rentang resistance 6.286 hingga 6.459, dengan area support kritikal pada level 5.594 hingga 5,462.
| Indikator | Nilai | Perubahan |
|---|---|---|
| IHSG | 5.594,765 | -8,69% |
| Kapitalisasi Pasar | Rp9.807 triliun | -8,59% |
| Rata-rata Nilai Transaksi Harian | Rp26,97 triliun | -5,71% |
| Rata-rata Frekuensi Harian | 2,41 juta kali | 14,11% |
| Rata-rata Volume Harian | 33,63 miliar saham | 8,66% |
| Aksi Jual Bersih Asing (Harian) | Rp3,73 triliun | – |
| Aksi Jual Bersih Asing (YTD) | Rp61,36 triliun | – |
| Nilai Transaksi SPPA | Rp602,9 triliun | 114,3% (YoY) |