Aktivitas Manufaktur Swasta China Melambat pada Mei 2026

Share

Aktivitas manufaktur sektor swasta China mengalami perlambatan pada Mei 2026 seiring dengan penurunan momentum pertumbuhan ekonomi pada negara raksasa tersebut, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Senin (1/6).

Penurunan kinerja ini ditunjukkan oleh Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur China versi RatingDog yang merosot ke angka 51,8 dari rekor sebelumnya sebesar 52,2 pada April 2026.

Meskipun mengalami penurunan, angka capaian tersebut tercatat masih lebih tinggi dari median perkiraan para ekonom yang memprediksikan angka sebesar 51,3.

Pihak RatingDog menyatakan bahwa angka di atas ambang batas 50 menunjukkan kondisi sektor manufaktur yang masih membaik jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

"Pembacaan terbaru menunjukkan perbaikan kondisi manufaktur yang lebih moderat dibandingkan bulan sebelumnya, namun tetap berada jauh di atas tren jangka panjang survei sebesar 50,8 sejak 2004," menurut pernyataan tersebut.

Data resmi pemerintah yang dirilis pada Minggu (31/5) juga menunjukkan aktivitas pabrik turun menjadi 50 dari posisi 50,3 pada April akibat gangguan libur lima hari dan tekanan konflik Timur Tengah.

Tekanan dari perang di Iran berdampak besar pada biaya input dan operasional perusahaan-perusahaan kecil yang berorientasi ekspor di China.

Namun, sektor teknologi seperti semikonduktor, komputer, dan produk kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi penyumbang utama ekspor China di tengah perlambatan produksi industri global.

Tim ekonom dari Bloomberg Economics memberikan analisis mendalam terkait implikasi penurunan angka indeks manufaktur swasta tersebut terhadap performa perdagangan luar negeri China.

"As sebuah indikator yang berorientasi ekspor, pembacaan yang lebih lambat — meskipun masih berada di zona ekspansi — menunjukkan pertumbuhan ekspor kemungkinan melambat pada Mei. Komponen harga dalam survei RatingDog juga mengindikasikan bahwa guncangan energi akibat perang Iran sedikit mereda, sejalan dengan sinyal dari PMI resmi." menurut analisis Bloomberg Economics.

Lonjakan permintaan infrastruktur AI global dan guncangan harga minyak akibat perang Iran mendorong harga ekspor China naik pada laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author