Aksi Jual Saham Big Caps Tekan IHSG ke Level Terendah Lima Tahun

Share

Pasar saham Indonesia mengalami tekanan besar setelah Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) ambruk 4,94 persen atau melemah 305,94 poin ke level 5.889,48 pada perdagangan Selasa, 3 Juni 2026. Penurunan tajam ini membawa indeks domestik terhempas ke area terendah dalam lima tahun terakhir.

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun Kabarbursa.com, IHSG awalnya dibuka pada level 6.207,10 sebelum akhirnya terus merosot hingga menyentuh titik terendah harian di level 5.876,32. Total nilai transaksi pasar tercatat mencapai Rp50,15 triliun, dengan volume perdagangan sebesar 472,15 juta lot dan frekuensi transaksi sebanyak 2,38 juta kali.

Aksi lepas saham oleh investor asing menjadi pemicu utama kemerosotan indeks. Data Foreign Activity Midday Stockbit Sekuritas mencatat investor asing membukukan penjualan sebesar Rp5,74 triliun dan pembelian Rp5,21 triliun, sehingga menghasilkan penjualan bersih asing (net foreign sell) sebesar Rp525,37 milar.

Sektor perbankan raksasa menjadi sasaran utama pelepasan aset oleh pemodal internasional. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan aksi jual bersih asing terbesar senilai Rp265,32 miliar, disusul PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp257,53 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp198,73 miliar.

Tekanan jual juga melanda saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan net sell Rp104,14 miliar serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp90,94 milar. Emiten di bawah naungan grup Prajogo Pangestu seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turut menghadapi gelombang distribusi asing.

Meski demikian, beberapa saham masih mencatatkan akumulasi oleh investor asing di tengah kejatuhan indeks. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memimpin pembelian bersih asing (net foreign buy) terbesar mencapai Rp165,59 miliar, diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) senilai Rp87,04 miliar, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp86,96 miliar.

Dana asing juga mengalir masuk ke saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar Rp43,21 miliar dan PT Dewata Freightinternational Tbk (DEWA) senilai Rp42,71 milar. Namun, perolehan tersebut tidak mampu membendung tekanan jual masif pada saham-saham berkapitalisasi besar lainnya.

Koreksi tajam dialami oleh saham-saham grup Prajogo Pangestu yang memperberat posisi IHSG. Saham BRPT melemah hingga 13,47 persen ke level Rp1.670, CUAN jatuh 12,10 persen ke Rp690, PTRO terkoreksi 15 persen ke level Rp4.080, sedangkan BREN menyusut 5,83 persen menjadi Rp3.880.

Saham TPIA yang menjadi salah satu penggerak nilai transaksi utama ambles 13,42 persen menuju posisi Rp1.645 dengan nilai perdagangan mencapai Rp1,89 triliun. Penurunan ini diikuti oleh PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) yang merosot 13,79 persen ke level Rp750.

Data historis TradingView menunjukkan kinerja IHSG dalam satu bulan terakhir telah terkontraksi sebesar 15,73 persen. Jika dihitung sejak awal tahun (year to date), indeks saham domestik telah anjlok sebesar 32,12 persen, sementara dalam periode satu tahun terakhir mencatatkan koreksi sebesar 16,72 persen.

Tingginya volatilitas pasar saat tekanan terjadi tercermin dari aktivitas transaksi perantara pedagang efek yang meningkat tajam. UBS Sekuritas Indonesia (AK) membukukan nilai transaksi terbesar senilai Rp3,92 triliun, diikut Stockbit Sekuritas Digital (XL) sebesar Rp3,37 triliun, dan Mandiri Sekuritas (CC) mencapai Rp3,13 triliun.

Selanjutnya, Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp2,12 triliun. Sementara itu, CGS International Sekuritas Indonesia (YU) membukukan volume transaksi senilai Rp1,8 triliun pada akhir sesi perdagangan tersebut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author