Aksi Jual Asing Rp1,11 Triliun Hentikan Reli IHSG di Level 6.334

Share

Aksi jual bersih pemodal asing sebesar Rp1,11 triliun menghentikan reli kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sembilan hari berturut-turut pada perdagangan Rabu (22/7/2026). Indeks Bursa Efek Indonesia tersebut terkoreksi tipis 0,09 persen atau turun 5,54 poin ke posisi 6.334,48.

Koreksi bursa saham domestik ini bertepatan dengan keputusan Bank Indonesia yang memilih menahan suku bunga acuan di tingkat 5,75 persen. Keputusan tersebut berada di luar perkiraan sebagian konsensus pasar yang memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen.

Berdasarkan catatan transaksi, total nilai perdagangan harian mencapai Rp18,55 triliun dengan volume 46,42 miliar saham. Sebanyak 340 hingga 367 saham tercatat melemah, sementara pemodal asing paling banyak melepas saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) senilai Rp230 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp141 miliar.

Pelemahan IHSG juga diiringi depresiasi nilai tukar rupiah sebesar 0,16 persen ke level Rp17.917 per dolar AS. Menurut data pasar, angka ini memperbesar total penurunan mata uang garuda menjadi 7,42 persen sejak awal tahun.

Analis Phintraco Sekuritas menilai keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga menunjukkan komitmen menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah tekanan pasar.

"Keputusan tersebut mencerminkan keyakinan Bank Indonesia terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi yang tetap terkendali, sekaligus menjaga ruang pertumbuhan ekonomi domestik," kata analis Phintraco Sekuritas.

Sisi teknikal bursa menunjukkan indikator momentum yang masih cukup baik meski dibayangi risiko penyesuaian harga jangka pendek.

"Secara teknikal, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan support 6.220–6.250 dan resistance 6.360–6.400. Momentum bullish masih terjaga, namun setelah reli yang cukup kuat dalam beberapa hari terakhir, potensi profit taking jangka pendek tetap perlu diwaspadai," kata Reza Diofanda, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas.

Pandangan berbeda disampaikan oleh pihak riset lain yang menyoroti batas pergerakan indeks berdasarkan kebijakan moneter jangka panjang.

"Jika naik lagi, tekanan balik ke 6.000—6.100. Higher for longer hingga akhir tahun [membuat] upside terbatas. Base case IHSG masih 6.000—6.500. Penentu terbesar tetap MSCI November, bukan level BI Rate," kata Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.

Di sisi lain, daya tarik pasar keuangan dalam negeri dinilai perlu terus dijaga untuk mempertahankan arus modal masuk.

"Sehingga dibutuhkan daya tarik bagi pelaku pasar dan investor asing untuk masuk ke dalam pasar keuangan dalam negeri," kata Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.

Nico menambahkan bahwa pergerakan instrumen investasi sangat sensitif terhadap arah kebijakan penetapan suku bunga.

"Apalagi saham dan obligasi pasti akan mengalami penurunan harga di saat suku bunga naik," kata Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.

Sementara itu, respons pelaku pasar modal terhadap langkah pengambil kebijakan moneter dinilai sudah memperhitungkan kondisi perekonomian saat ini.

"Dengan kata lain, pasar saham Indonesia sudah berada pada mode ‘higher for longer is the new normal’ sehingga responsnya terhadap keputusan BI relatif terukur," kata Rully Arya Wisnubroto, Analis Mirae Asset Sekuritas.

Koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan mayoritas indeks saham utama di kawasan Asia seperti Nikkei 225, Hang Seng, dan CSI 300 yang juga ditutup melemah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author