Aksi Beli Surat Utang Negara Berlanjut meski Rupiah Melemah
Pasar Surat Utang Negara (SUN) masih mencatat aksi beli pada sesi perdagangan Jumat (26/6/2026). Sentimen positif ini bertahan meski nilai tukar rupiah melemah 0,28% ke level Rp17.975/US$ akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS), seperti dikutip dari Bloombergtechnoz.
Sebagian besar tenor mencatat penurunan imbal hasil (yield) berdasarkan data Bloomberg pada pukul 10:00 WIB. Penurunan paling tajam terjadi pada yield tenor 4 tahun yang merosot 11 bps ke level 7,17%, disusul tenor 5 tahun yang turun 6,9 bps menjadi 7,14%.
Yield tenor 1 tahun juga turun sebesar 3,4 bps ke level 7,18%. Sementara itu, yield tenor 8 tahun dan 9 tahun masing-masing mengalami penurunan 1,2 bps menjadi 7,25% dan 7,22%.
Kenaikan yield hanya terjadi pada sebagian kecil tenor. Pergerakan yield tenor 2 tahun naik 0,8 bps ke 7,14%, sedangkan tenor 3 tahun meningkat 0,5 bps ke level 7,19%, dan tenor acuan 10 tahun naik tipis 0,1 bps menjadi 7,18%.
Kondisi ini memicu fenomena kurva mendatar karena yield tenor 1 tahun dan 10 tahun mencatatkan angka yang sama di level 7,18%. Beberapa titik tenor bahkan memperlihatkan kondisi yang mendekati inverted.
Investor biasanya meminta yield yang lebih tinggi untuk obligasi jangka panjang dalam kondisi normal. Hal tersebut menjadi kompensasi atas risiko inflasi, perubahan suku bunga, serta ketidakpastian ekonomi pada masa depan.
Persamaan yield antara tenor 1 tahun dan 10 tahun mengindikasikan penilaian pelaku pasar saat ini. Risiko jangka pendek dianggap memiliki besaran yang sama dengan risiko jangka panjang.
Pasar tengah mencermati risiko jangka pendek dan berekspektasi terhadap langkah hawkish The Fed setelah inflasi AS melonjak ke 4,1%. Lonjakan inflasi ini berpotensi memicu kenaikan lanjutan Fed Fund Rate (FFR) dan mempertahankan penguatan dolar AS.
Aksi beli di pasar SUN terjadi seiring langkah pelaku pasar yang melakukan pricing in lebih awal terhadap ekspektasi inflasi AS menurut Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas (MCS). Ekspektasi tersebut terkonfirmasi melalui rilis data yang menunjukkan tekanan inflasi tidak seburuk proyeksi.
"Rilis inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) tadi malam menurunkan peluang kenaikan suku bunga The Fed tahun ini sebanyak dua kali, masing-masing 25 bps," kata Lionel dalam catatannya bersama Nanda Puput Rahmawati, Fixed Income Analyst MCS.
Lionel memperkirakan yield obligasi pemerintah AS atau US Treasury akan mengalami konsolidasi di level 4,39%. Perkiraan ini muncul meskipun yield tenor 2 tahun turun 2,3 bps menjadi 4,12% dan yield tenor 30 tahun naik 2,2 bps menjadi 4,86%.
"With mempertimbangkan hasil ini, kami memprediksi yield SUN tenor 10 tahun bergerak stabil di rentang 7,15-7,20%," katanya.
Proyeksi kelanjutan aksi beli juga berlaku bagi pasar surat utang RI berdenominasi dolar AS (INDON). Potensi penurunan yield obligasi tersebut berada pada rentang 5,3%-5,4%, setelah sebelumnya yield INDON 10 tahun sempat terkerek hingga 5,58% pada 8 Juni lalu.