Achraf Hakimi Pimpin Timnas Maroko Hadapi Prancis di Piala Dunia 2026

Share

Bek kanan Paris Saint-Germain, Achraf Hakimi, memimpin Timnas Maroko menghadapi Prancis dalam pertandingan babak perempat final Piala Dunia 2026 yang berlangsung pada Kamis, 9 Juli 2026 pukul 22.00 waktu setempat.

Pertandingan bersejarah ini akan menentukan tim yang berhak melaju ke babak semifinal untuk menantang pemenang laga antara Spanyol dan Belgia. Hakimi yang kini berusia 27 tahun menjadi sosok sentral setelah membawa Maroko mencetak berbagai prestasi internasional.

Meskipun lahir di Madrid, Spanyol pada 4 November 1998 dan memiliki kewarganegaraan ganda, Hakimi memilih membela tanah air orang tuanya. Pemain bertinggi 1,80 meter ini sempat mengikuti latihan bersama tim nasional muda Spanyol sebelum akhirnya memantapkan pilihan untuk berseragam Maroko.

Masa kecil Hakimi di Getafe dipenuhi perjuangan berat karena kondisi ekonomi keluarganya yang berstatus imigran. Ibunya, Saida Mouh, bekerja sebagai pembersih rumah, sedangkan ayahnya, Hassan Hakimi, menjadi pedagang pedagang kaki lima di pasar Majadahonda.

Keluarga besar Hakimi sangat mendukung kariernya, termasuk sang kakak Nabil Hakimi yang bekerja sebagai pencari bakat dan adiknya Ouidad Hakimi yang aktif sebagai pembuat konten. Hakimi juga memiliki dua anak dari mantan istrinya, aktris Hiba Abouk, sebelum mereka bercerai pada 2023.

Karier profesional Hakimi dimulai dari akademi Real Madrid hingga debut di tim utama pada 2017 sebelum dipinjamkan ke Borussia Dortmund. Setelah bersinar bersama Inter Milan, ia dibeli PSG seharga 68 juta euro pada musim 2020/2021 dan menerima gaji sebesar 13,20 triệu euro per tahun setelah perpanjangan kontrak pada 2025.

Di tengah partisipasinya di Piala Dunia 2026, Hakimi menghadapi penyelidikan hukum setelah Pengadilan Banding Versailles mengonfirmasi bahwa ia akan disidang atas dugaan kasus pemerkosaan dari Februari 2023. Namun, sang pemain telah membantah tuduhan tersebut sebelum berangkat ke turnamen.

Berikut adalah kutipan langsung terkait perjalanan hidup dan karier sepak bola Achraf Hakimi dari berbagai wawancara resmi yang dihimpun oleh media Larazon, Okdiario, dan Eldestapeweb.

"Vengo de una familia muy humilde, como no nacimos en España, nos miraban de manera diferente y teníamos menos oportunidades" kata Achraf Hakimi, Pemain Timnas Maroko.

Hakimi mengungkapkan bahwa situasi finansial keluarganya dahulu sangat terbatas meskipun orang tuanya selalu mengusahakan yang terbaik bagi anak-anaknya.

"Que yo practicara fútbol era un sueño para mí y un sacrificio para ellos" ujar Achraf Hakimi, Pemain Timnas Maroko.

Keterbatasan tersebut justru menjadi motivasi besar bagi Hakimi hingga ia sukses menembus skuat utama Real Madrid dan menjadi salah satu bek kanan terbaik dunia.

"Que yo pudiera jugar al fútbol era un esfuerzo un sacrificio para ellos. Mis hermanos también han tenido que sacrificarse. Éramos muy pobres. Ahora yo lucho por ellos" ucap Achraf Hakimi, Pemain Timnas Maroko.

Mengenai keputusannya menolak panggilan tim nasional Spanyol, Hakimi menjelaskan bahwa kenyamanan budaya menjadi alasan utama dirinya memilih membela tim berjuluk Singa Atlas.

"Fui, probé y no me sentí cómodo con España" tutur Achraf Hakimi, Pemain Timnas Maroko.

Keputusan tersebut dirasa paling tepat demi menghormati latar belakang keluarganya serta kenyamanan pribadinya dalam berkarier di level internasional.

"Lo más cómodo para seguir mi carrera y por mis padres era escoger a Marruecos" jelas Achraf Hakimi, Pemain Timnas Maroko.

Ia menambahkan bahwa atmosfer di dalam tim Spanyol tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan dan jalani di dalam lingkungan rumahnya sehari-hari.

"Fui a la Selección española también para probar. Estuve un par de días en Las Rozas y vi que no era mi sitio adecuado. No era por nada en concreto, sino por lo que yo sentía, porque no era lo que había mamado y vivido en casa, que es la cultura árabe, ser marroquí" pungkas Achraf Hakimi, Pemain Timnas Maroko.

Di sisi lain, pakar hukum dan sosiologi olahraga menyoroti bagaimana reputasi besar seorang pesepak bola sering kali memengaruhi persepsi publik dalam kasus-kasus kekerasan seksual.

"Un futbolista rico no necesita violar" sebut Daniel Sailofsky, Peneliti Universitas York.

Tuduhan terhadap para pemain bintang juga sering kali direspons negatif oleh publik yang cenderung membela kehormatan sang atlet maupun klubnya.

"Son casi siempre e inmediatamente catalogadas (al menos por un porcentaje de la opinión pública) como ‘cazafortunas’, o se las acusa de denunciar a estos hombres solo por su fama y por la posibilidad de obtener dinero mediante un acuerdo o notoriety pública" urai Daniel Sailofsky, Peneliti Universitas York.

Kondisi ini diperkuat oleh struktur internal klub sepak bola yang didominasi oleh pria, sehingga keputusan-keputusan besar sering kali berpihak pada perlindungan sesama pria.

"La hipermasculinidad [de este deporte] puede contribuir a crear un entorno donde la violencia contra las mujeres se normaliza o se minimiza" terang Stacey Pope, Peneliti Olahraga.

Oleh karena itu, penempatan wanita di posisi strategis manajemen klub sepak bola masih sangat minim dan cenderung diletakkan pada peran pinggiran.

"Nuestra investigación más reciente revela que los hombres siguen acaparando los puestos de mayor rango en el fútbol de clubes masculinos. Cuando se incluye a mujeres en cargos de liderazgo, se las suele encauzar hacia roles periféricos. De este modo, se aparta a las mujeres de las grandes decisiones futbolísticas. Así es cómo los clubes protegen los intereses de los hombres" tandas Stacey Pope, Peneliti Olahraga.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author