Kapitalisasi Pasar BEI Lenyap Rp501 Triliun Saat IHSG Anjlok
Kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia menyusut sekitar Rp501 triliun dalam satu jam awal perdagangan Kamis (4/6/2026) akibat gelombang tekanan jual yang memicu kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG hingga ke bawah level psikologis.
Data pasar Bursa Efek Indonesia menunjukkan nilai kapitalisasi pasar merosot menjadi Rp9.954 triliun per pukul 10.00 WIB, setelah ditutup pada posisi Rp10.455 triliun pada hari sebelumnya. Penurunan ini memperlebar jarak dari rekor tertinggi sepanjang masa sebesar Rp16.000 triliun yang sempat dicapai pada tahun 2025.
Dilansir dari cnbcindonesia.com, IHSG pada perdagangan pagi langsung terlempar ke zona merah dengan pelemahan mencapai 4,30 persen ke level 5.683,25. Tekanan jual melanda secara masif di mana 654 saham melemah, 258 saham tidak bergerak, dan hanya 48 saham yang menguat.
Aktivitas transaksi di lantai bursa terpantau padat dengan frekuensi mencapai 606,9 ribu kali dan volume perdagangan sebesar 8,77 miliar lembar saham. Total nilai transaksi pada periode tersebut tercatat menyentuh angka Rp5,27 triliun.
Pada awal pembukaan, indeks sebenarnya berada di posisi 5.919,57 sebelum akhirnya merosot ke level terendah harian di 5.873,00. Berdasarkan laporan money.kompas.com, peningkatan tekanan jual sempat membuat indeks terdepresiasi 1,30 persen ke level 5.864,04 pada pukul 09.08 WIB.
Koreksi tajam ini melanjutkan performa buruk hari Rabu (3/6/2026), saat IHSG anjlok 4,11 persen atau 254 poin ke level 5.941. Riset teknikal Ciptadana Sekuritas Asia melalui bareksa.com mencatat sektor Bahan Baku menjadi penekan terdalam sebesar 9,05 persen, diikuti sektor Energi minus 5,61 persen, dan Infrastruktur minus 5,05 persen, sementara mata uang rupiah melemah ke Rp17.950 per dolar AS.
Ciptadana Sekuritas Asia memproyeksikan IHSG berpotensi bergerak pada rentang support 5.735 hingga resistance 5.967 untuk perdagangan hari ini dengan merekomendasikan beberapa saham pilihan.
Berikut adalah tabel ringkasan rekomendasi saham dari Ciptadana Sekuritas Asia:
| Saham | Rekomendasi | Entry | Target | Stop Loss |
|---|---|---|---|---|
| BBNI | Buy on Weakness | 3.390 | 3.660 | 3.340 |
| KLBF | Buy on Weakness | 715 | 800 | 680 |
| SIDO | Buy on Weakness | 366 | 396 | 360 |
| TPIA | Buy on Weakness | 1.425 | 1.750 | 1.370 |
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau pelaku pasar modal agar tidak merespons pergerakan indeks ini dengan kepanikan yang berlebihan.
"Jangan takut, fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada short, ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, enggak ada masalah. Pendapatan pajak di Mei saja masih kencang begitu," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Purbaya Yudhi Sadewa berargumen bahwa aktivitas konsumsi domestik masih terjaga tinggi yang terlihat dari ramainya pusat hiburan, perhotelan, serta jalan raya di Jakarta maupun daerah saat masa liburan.
"Di mana-mana ramai kan, tempat hiburan, hotel, di jalan. Jakarta juga ramai. Saya pikir kalau liburan ke daerah, Jakarta kosong. Ternyata ramai juga. Jadi memang domestic demand masih kuat, daya beli masyarakat masih cukup kuat. Itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Jadi enggak usah takut kita akan jeblok," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Otoritas fiskal berkomitmen untuk mengembalikan stabilitas pasar modal melalui penguatan sentimen dan fondasi ekonomi secara berkelanjutan.
"Saya yakin akan naik lagi karena fondasi ekonomi bagus," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Pemerintah menyadari pentingnya menjaga keseimbangan psikologis investor di tengah gejolak eksternal maupun internal.
"Tadinya saya cuma fokus di fundamental saja, tapi saya pikir kita akan memastikan semuanya lebih baik, termasuk menjaga sentimen pasar," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Sudut pandang berbeda disampaikan oleh pelaku pasar modal yang menilai koreksi beruntun mencerminkan adanya persoalan struktural dalam kepercayaan investor global.
"Koreksi tajam IHSG hingga menembus level psikologis 6.000 dan ditutup di 5.941 pada perdagangan 3 Juni 2026 menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami krisis kepercayaan yang cukup serius," kata Hendra Wardana, Founder Republik Investor seperti dilansir jambi.antaranews.com.
Hendra Wardana menekankan bahwa pelemahan pasar saham dipicu oleh kekhawatiran atas kebijakan ekspor satu pintu, depresiasi mata uang rupiah, serta berlanjutnya aksi jual bersih oleh pemodal internasional.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal," kata Hendra Wardana, Founder Republik Investor.
Ketidakpastian regulasi dinilai memicu perpindahan modal ke bursa regional lain di Asia yang posisinya saat ini bergerak menguat.
"Kepercayaan investor merupakan aset yang sangat mahal nilainya. Ketika kepastian kebijakan berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah ekonomi ke depan, investor cenderung memilih menunggu atau bahkan memindahkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih stabil," kata Hendra Wardana, Founder Republik Investor.
Berdasarkan catatan transaksi modal harian, investor asing membukukan penjualan bersih senilai Rp864 miliar, yang menambah akumulasi modal keluar menjadi Rp67 triliun sejak awal tahun.
"Oleh karena itu, kemungkinan IHSG masih dapat mengalami tekanan lanjutan dan menguji area psikologis berikutnya di sekitar 5.800 hingga 6.000 sebelum akhirnya menemukan keseimbangan baru dan berpeluang melakukan pemulihan secara bertahap," kata Hendra Wardana, Founder Republik Investor.