IHSG Anjlok 4 Persen Akibat Rebalancing Indeks MSCI

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam dengan penurunan lebih dari 4 persen selama dua hari berturut-turut. Kondisi ini merefleksikan posisi bursa saham Indonesia yang kehilangan pengaruh dari pergerakan saham-saham konglomerasi besar.

Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, situasi ini terjadi setelah penyedia indeks global, MSCI, mengeluarkan sejumlah emiten besar dari kategori MSCI Global Standard Indexes. Saham yang terdepak meliputi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Sementara itu, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) diturunkan ke kategori Small Cap.

Kabar mengenai didepaknya sejumlah emiten konglomerasi tersebut sebenarnya telah berembus sejak awal tahun. Hal ini memicu akumulasi penurunan harga saham AMMN hingga CUAN secara signifikan sampai dengan perdagangan Kamis (4/6/2026).

Secara akumulatif sejak awal tahun, AMMN mengalami penurunan sebesar 50,51 persen, BREN merosot 57,32 persen, dan TPIA anjlok hingga 79,79 persen. Penurunan tajam juga dialami oleh DSSA sebesar 84,53 persen serta CUAN yang terkoreksi 68,59 persen.

Kejatuhan harga saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar ini berdampak langsung pada kinerja indeks secara keseluruhan. Tercatat IHSG telah mengalami penurunan sebesar 33,84 persen sejak awal tahun.

Pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pukul 11.01 WIB, IHSG tercatat kehilangan 239,78 poin atau melemah sekitar 4 persen. Koreksi tersebut membawa indeks bergerak ke level 5.700.

Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Erindra Krisnawan menjelaskan bahwa efek langsung dari perombakan konstituen MSCI ini adalah memicu keluarnya dana investor asing dari pasar domestik.

Erindra memproyeksikan aksi jual bersih oleh investor asing tersebut berpotensi mencapai kisaran US$2,2 miliar hingga US$2,7 miliar atau setara dengan lebih dari Rp48 triliun. Dampak dari aliran dana keluar ini diperkirakan mulai terbatas setelah hasil rebalancing resmi berlaku efektif pada 29 Mei lalu.

Kendati efeknya mulai terbatas, hilangnya kontribusi dari saham-saham konglomerasi membuat IHSG kehilangan tenaga pendorong utama yang selama ini menopang pergerakan indeks.

Merespons dinamika pasar terupdate, BRIDS mengambil langkah untuk memangkas target posisi IHSG pada akhir tahun ini. Target indeks disesuaikan menjadi 7.200 dari proyeksi awal yang berada di level 9.440.

"Revisi ini mencerminkan penghapusan 40% arus dana investor di saham konglomerasi," kata Erindra.

Penyesuaian target ini bukan disebabkan oleh penurunan kinerja fundamental atau memburuknya prospek laba bersih dari para emiten. Langkah ini diambil karena kalkulasi target tidak lagi memasukkan unsur premium saham konglomerasi yang sebelumnya mendongkrak valuasi pasar.

Melalui analisis tersebut, pergerakan IHSG saat ini dipandang tidak sepenuhnya menggambarkan pemburukan kondisi pasar saham secara fundamental. Bursa saham domestik dinilai sedang berada dalam fase penyesuaian menuju keseimbangan baru setelah bobot saham konglomerasi berkurang.

Di sisi lain, penurunan mendalam ini justru membuat tingkat valuasi pasar saham Indonesia menjadi jauh lebih murah dan atraktif bagi investor. Data dari BRIDS menunjukkan selisih antara earnings yield IHSG dengan imbal hasil obligasi pemerintah kini melebar ke kisaran 242 basis poin (bps), berada di atas rata-rata historis 11 tahun yang sebesar minus 31 bps.

"Valuasi saat ini pada dasarnya sudah mencerminkan skenario pesimistis yang cukup ekstrem," ujar Erindra.

BRIDS memperkirakan ruang pemulihan indeks dalam jangka pendek kini mulai terbuka. Sentimen positif diharapkan muncul setelah tekanan jual akibat rebalancing MSCI mereda, nilai tukar rupiah bergerak lebih stabil, dan kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia mulai berkurang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author