Rupiah Stagnan di Rp17.657 per Dolar AS Pagi Ini
Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar luar negeri bergerak stagnan pada posisi Rp17.657/US$ pagi ini. Pergerakan tersebut terjadi setelah mata uang Garuda sempat mencatat penguatan sebesar 0,56% pada hari sebelumnya.
Kondisi ini dipengaruhi oleh indeks dolar AS yang masih bertahan tinggi di level 99,13. Di sisi lain, harga minyak mentah Brent juga terpantau masih berada di posisi US$105,8 per barel, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Sebelumnya, harga komoditas energi tersebut sempat merosot tajam hingga 5,6% pada Rabu. Penurunan dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa negaranya berada pada tahap akhir negosiasi dengan Iran.
Namun, kabar lain mengenai status perundingan justru bertentangan dengan pernyataan Trump, sehingga membuat harga minyak kembali merangkak naik. Meskipun kesepakatan damai berpotensi menekan harga, situasi pasar saat ini dinilai masih mengalami kekacauan.
"Butuh hingga 55 hari untuk mengirim minyak dari Teluk Persia ke tujuan akhirnya, yang berarti persediaan tetap akan terus menyusut selama periode tersebut," kata Joe DeLaura, global energy strategist di Rabobank, seperti dikutip Bloomberg News.
Bahkan, menurut CEO Abu Dhabi National Oil Co., Sultan Al Jaber, arus pasokan minyak Timur Tengah tidak akan sepenuhnya pulih hingga 2027 sekalipun konflik AS-Iran berakhir saat ini. Ia menilai penutupan Selat Hormuz menjadi gangguan pasokan paling parah sepanjang sejarah.
Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau cukup bervariasi. Penguatan berhasil dicatatkan oleh baht Thailand, ringgit Malaysia, yen Jepang, yuan offshore, serta dolar Hong Kong, sementara won Korea Selatan masih berada dalam posisi tertekan.
Meskipun beberapa mata uang kawasan berhasil bangkit pagi ini, kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga minyak memicu kenaikan imbal hasil obligasi global. Situasi ini berpotensi memicu terjadinya arus modal keluar dari kawasan Asia, termasuk Indonesia.
"Dalam jangka pendek, mata uang Asia kemungkinan masih akan diperdagangkan dalam posisi yang lebih lemah," kata Chrispother Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp., seperti dikutip dari Bloomberg.
Wong menambahkan bahwa stabilitas pasar dapat tercapai jika harga minyak dan imbal hasil US Treasury berhenti mendaki. Namun, pemulihan yang lebih berkelanjutan membutuhkan penurunan yield tenor panjang AS, meredanya ketegangan dua negara bertikai, serta berkurangnya tekanan capital outflow dari pasar saham Asia.
Pada perdagangan kemarin, rupiah spot bergerak menguat setelah sempat menyentuh rekor terendah, dan ditutup pada level Rp17.605/US$. Sentimen positif tersebut berhasil menghapus pelemahan pasca-kebijakan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%.
Meski berhasil bangkit dari rekor terlemahnya, tekanan eksternal terhadap mata uang domestik belum sepenuhnya mereda. Selama kurs rupiah masih bergerak dalam rentang Rp17.550/US$ hingga Rp17.650/US$, tekanan depresiasi dinilai masih tetap dominan.
Langkah agresif Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25% ditujukan untuk memprioritaskan stabilitas pasar, menjaga nilai tukar, serta meredam arus modal keluar. Namun, efektivitas kebijakan ini masih sangat bergantung pada faktor eksternal, terutama fluktuasi harga minyak mentah.
Tantangan dari dalam negeri juga masih membayangi pasar keuangan seiring sorotan pelaku pasar terhadap kondisi defisit fiskal domestik.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menyoroti rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Buto (PDB) Indonesia yang merupakan salah satu yang paling rendah di antara anggota G20. Sebagai perbandingan, rasio pendapatan negara Meksiko mencapai 25% dan India sebesar 20%.
Sementara di tingkat Asia Tenggara, rasio Filipina tercatat sebesar 21% dan Kamboja mencapai 15%. Sebaliknya, rasio penerimaan negara Indonesia hanya berada di angka 11-12% dari total PDB.
Sorotan ini ditangkap oleh pelaku pasar sebagai indikasi kondisi fiskal domestik yang masih rapuh di tengah hantaman tekanan global. Rendahnya rasio tersebut memperlihatkan kepada investor bahwa ruang fiskal pemerintah relatif terbatas dalam menghadapi gejolak eksternal.
Keterbatasan ini menjadi krusial saat pemerintah memerlukan alokasi belanja yang lebih besar untuk menjaga daya beli masyarakat, mendanai subsidi energi, serta menjalankan langkah-langkah stabilitas ekonomi.
Apabila tekanan global kembali meningkat yang dipicu oleh lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, dan kenaikan yield US Treasury tenor panjang, rupiah diproyeksikan berpotensi kembali menguji level Rp17.750/US$ hingga Rp17.800/US$.
Secara teknikal, nilai tukar rupiah sebetulnya masih menyimpan potensi penguatan, meskipun lajunya diperkirakan akan terbatas dalam rentang yang sempit. Investor perlu mencermati target resistance terdekat yang berada pada level Rp17.580/US$ sebagai sasaran awal.
Jika target tersebut berhasil ditembus, sasaran penguatan mata uang Garuda selanjutnya berada di posisi Rp17.550/US$.
Melihat tren perdagangan pada grafik harian (time frame daily), jika rupiah mampu menembus kedua level resistance tersebut, ruang penguatan lanjutan dapat terbuka menuju kisaran Rp17.500/US$ hingga level Rp17.400/US$ sebagai area resistance terkuat.
Namun, jika mata uang domestik justru mengalami pelemahan pada perdagangan hari ini, tingkat support yang menarik untuk dicermati berada pada level Rp17.700/US$. Selanjutnya, area Rp17.750/US$ hingga Rp17.800/US$ menjadi wilayah potensial untuk menahan laju penurunan rupiah.