Pasar Keuangan Melemah Saham dan Rupiah Sentuh Level Terendah
Pasar keuangan Indonesia mengalami pelemahan mendalam setelah Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dan nilai tukar rupiah kompak melaju di zona merah pada perdagangan Kamis (4/6/2026).
Kondisi ini menyusul penurunan tajam pada hari sebelumnya ketika IHSG anjlok hingga 4,11 persen ke level 5.941,07, yang menjadi posisi terlemah dalam lima tahun terakhir sejak Mei 2021.
Tren penurunan berlanjut pada Kamis pagi pukul 09:19 WIB dengan IHSG yang merosot lagi sebesar 4,75 persen ke posisi 5.658,76, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Sementara itu, nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.960 per dolar AS dan terus merosot sebesar 0,25 persen ke posisi Rp18.020 per dolar AS pada pukul 09:25 WIB, yang menjadi rekor terlemah sepanjang sejarah setelah ditutup di posisi Rp17.957 per dolar AS kemarin.
Koreksi tajam ini dipicu oleh kekhawatiran dampak pelemahan mata uang terhadap biaya produksi emiten di Bursa Efek Indonesia, terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada komoditas impor.
Berdasarkan survei S&P Global, Purchasing Managers' Index atau PMI manufaktur Indonesia berada di level 50 pada Mei, yang menunjukkan aktivitas industri masih tertahan di ambang batas ekspansi akibat lonjakan biaya operasional tercepat kedua dalam sejarah.
Tekanan pasar diperparah oleh penurunan peringkat kredit PT Danantara Investment Management oleh Moody's Ratings ke level Baa2 dengan outlook negatif, serta data defisit Neraca Pembayaran Indonesia kuartal I-2026 yang membengkak jadi US$ 9,15 miliar.
Kondisi eksternal tersebut diperberat oleh menciutnya surplus neraca perdagangan April 2026 menjadi US$ 89,1 million, di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap disiplin fiskal akibat lonjakan belanja APBN yang mencapai 31,4 persen secara tahunan.
Rentetan sentimen negatif ini memicu kekhawatiran para pemodal global terhadap stabilitas makroekonomi domestik dan prospek pembagian dividen emiten di masa mendatang.
“Investor masih waspada dengan berbagai hal. Seperti arah kebijakan fiskal Indonesia, risiko penurunan rating, dan berlanjutnya pelemahan rupiah.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah situasi pasar yang menanti kejelasan stimulus untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap instrumen investasi dalam negeri.
“Valuasi IHSG memang menjadi atraktif dengan koreksi ini. Namun investor masih mencari sentimen positif dalam bentuk kejelasan arah kebijakan, stabilitas rating, arus modal masuk yang kuat, atau kajian baru dari MSCI yang mampu mengembalikan kepercayaan pasar,” jelas Mohit Mirpuri, Partner di SMGC Capital Pte.